Rabu, 23 Mei 2012 | 22:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tekanan Terhadap Rupiah Kendur
Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Asteria
web - Selasa, 25 November 2008 | 18:47 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali tenang. Setelah berfluktuasi tajam pada perdagangan siang, rupiah hanya melemah tipis terhadap dolar AS pada sore hari. Tingginya permintaan atas mata uang AS masih menekan mata uang rupiah.
Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pada perdagangan Selasa (25/11) kembali tenang di level 11.995 per dolar AS terkoreksi 63 poin dibandingkan penutupan kemarin. Rupiah sempat turun hingga 12.400 per dolar AS.
Analis valas Tony Mariano mengatakan, sentimen negatif di pasar timbul akibat tingginya kebutuhan korporasi atas dolar AS menjelang akhir tahun untuk memenuhi kebutuhan pembayaran utang. "Dolar AS juga dibutuhkan untuk liburan ke luar negeri di akhir tahun," timpalnya.
Menurutnya, pemerintah saat ini belum mempersiapkan diri menghadapi tekanan pasar terhadap kebutuhan dolar AS yang makin besar. Sedangkan untuk mendukung rupiah lebih lanjut, seharusnya bank sentral dan pemerintah bekerja sama dengan bank sentral lain untuk memasok dolar AS ke pasar.
Banyak kalangan menilai penerapkan blanket guarantee saat ini sangat diperlukan untuk menghindari efek domino larinya dana-dana dari perbankan nasional, terutama bank kecil, ke bank luar negeri yang menerapkan penjaminan penuh, seperti Singapura dan Hong Kong.
Sementara itu, dolar juga mengalami koreksi terhadap euro menyusul melemahnya risk aversion setelah pemerintah AS menyetujui mengucurkan dana pinjaman sebesar US$ 20 miliar penyelamatan Citigroup dari kebangkrutan.
Langkah penyelamatan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah menilai Citigroup terlampau besar dan penting untuk dibiarkan jatuh. Pemerintah AS tidak mau mengulangi kesalahannya terdahulu yang membiarkan Lehman Brothers bangkrut. Hal ini telah mampu meredam pasar meskipun nampaknya hanya sesaat.
Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono mengatakan bahwa pergerakan rupiah sangat dipengaruhi minimnya likuiditas valuta asing di pasar. Hal inilah yang membuat bank sentral turun tangan.
Menurutnya, ada beberapa langkah yang dilakukan BI untuk menjaga stamina rupiah, salah satunya menjaga posisi cadangan devisa. "Jadi kalau turun, jangan terlalu dibesar-besarkan. Soalnya cadangan devisa Rusia jatuh, bahkan empat kali cadangan devisa kita," kata Hartadi.
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa dalam waktu dekat, cadangan devisa Indonesia akan bertambah lagi dengan adanya penarikan pinjaman pemerintah lebih dari US$ 2 miliar.
Sementara itu, Menko Perekonomian/Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa saat ini nilai tukar rupiah tengah mencari titik equilibrium baru. Dengan kurs yang saat ini berada di atas 12 ribu per dolar AS, diakuinya akan menyebabkan imported inflation. Pasalnya, pelemahan rupiah mengharuskan Indonesia membayar impor lebih mahal.
Namun menurut Sri Mulyani, imported inflation akan sedikit terkompensasi oleh penurunan harga minyak dunia yang terjadi saat ini. "Harga komoditas turun termasuk harga minyak dunia yang diikuti dengan penurunan BBM, ini akan mendorong adanya slowing down pada inflasi," tambahnya.
Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa mata uang globa mengalami depresiasi terhadap dolar AS, sehingga seluruh dunia sebenarnya sedang mencari equilibrium. "Kondisi saat ini menunjukkan seakan-akan dolar AS menguat, tetapi kalau dilihat dari kondisi perekonomian AS tidak mencerminkan kondisi yang menggembirakan," jelasnya.
Tidak berbeda dengan dolar AS yang saat ini juga tengah mencari equilibrium baru, demikian pula perubahan wajah perekonomian AS belum diketahui seperti apa bentuk barunya.
Sri mengatakan, dalam kondisi perekonomian yang ketat likuiditas, pemerintah berupaya menggelontorkan dana-dana APBN untuk mendukung likuiditas di pasar. "Likuiditas itu untuk menggerakkan perekonomian, jangan sampai untuk spekulasi atau membeli valas yang tidak perlu," imbuh Sri Mulyani.
Sore ini nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya terpantau melemah. Rupiah terhadap dolar Singapura melemah ke 8.238,87, atas dolar Hong Kong turun menjadi 1.612,13 , terhadap dolar Australia melemah ke 7.961,89, dan atas Euro ditutup melemah ke 16.037,50. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.