25 November oleh masyarakat Indonesia dijadikan sebagai hari guru nasional. Di tanggal yang sama, masyarakat dunia juga sedang memperingati hari internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan.
Hari itu dijadikan sebagai momen untuk menyadarkan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah tindakan yang melanggar nilai-nilai agama dan kemanusiaan.
Saat ini problem kekerasan terhadap perempuan dapat disejajarkan dengan penyakit masyarakat semacam minuman keras dan Pekerja Seks Komersial (PSK). Keberadaannya dibenci, namun eksistensinya tetap sulit untuk dihilangkan. Hal itu dibuktikan dengan kasus kekerasan terhadap kaum hawa yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Untuk itu sebagai upaya penyadaran dan pengingatan, Bidang Kewanitaan (Bidwan) PKS Kepri pada Selasa (25/11) menggelar aksi simpatik untuk memperingati hari penghapusan kekerasan terhadap perempuan ini. Aksi simpatik yang dilakukan oleh puluhan kader wanita yang dikenal juga sebagai partai dakwah ini berjalan selama dua jam.
Dimulai tepat pukul 07:00 WIB, aksi simpatik yang dilaksanakan di Simpang Kabil ini diwarnai dengan beberapa spanduk dan poster yang dibentangkan. Dengan mudah ribuan pengendara dapat memahami aspirasi yang diharapakan oleh kader wanita partai yang pada pemilu 2009 bernomor delapan (8) ini. 'Stop Kekerasan Terhadap Kaum Perempuan dan Stop Kekerasan dan Pelecehan terhadap Pekerja Perempuan' adalah contoh aspirasi yang disampaikan.
Menurut salah seorang peserta, PKS Kepri sengaja menjadikan pekerja perempuan sebagai bagian dari fokus aspirasi karena di Kepri, khususnya Batam adalah daerah industri yang mayoritas pekerjanya adalah kaum wanita. "Hak-hak mereka harus kita aspirasikan", terangnya.
Tidak itu saja, ketika lampu merah menyala di traffic light, pengendara sepeda motor maupun mobil mendapatkan rangkaian bunga dan juga leaflet yang mengajak untuk menyadari bahaya kekerasan terhadap perempuan.
Bapake Nazla, bnusy@gmail.com