INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (26/11) diperkirakan masih akan mengalami tekanan. Potensi pelemahan masih berasal dari sentimen eksternal, yaitu penguatan dolar AS. Apalagi pemerintah AS terus melakukan pembenahan ekonominya.
Analis Bank Panin Ester Chandra mengatakan, pergerakan rupiah pada perdagangan kemarin relatif stabil, karena intervensi BI pada bank-bank yang membutuhkan dolar AS. Sehingga, transaksi di pasar sangat tipis dan fluktuasi rupiah terbatas. Hal ini pun berpotensi terjadi lagi pada perdagangan hari ini.
"Rupiah akan bergerak di kisaran 12.600-12.700 per dolar AS," papar Ester, kepada INILAH.COM, di Jakarta, semalam. Menurut Ester, dolar AS masih akan dominan terhadap mata uang lain karena sudah ada sedikit kejelasan tentang perekonomian di AS.
Pemerintah AS terus membenahi ekonominya dengan mengucurkan dana bailout (talangan). Sementara keterpurukan ekonomi di Eropa dinilai lebih parah. Selain belum adanya langkah-langkah signifikan ekonomi di kawasan ini tidak terlalu stabil dibandingkan Paman Sam. "Sehingga pemulihan zona Eropa lebih sulit," ujarnya.
Pertumbuhan ekonomi AS kuartal ketiga diekspektasikan melemah sebesar minus 0,5% dibandingkan kuartal kedua. Hal ini jauh lebih buruk dari kuartal sebelumnya yang minus 0,3%.
Bila pertumbuhan AS kembali minus maka negara itu resmi masuk resesi mengikuti Jerman dan Jepang. Sementara itu, sektor otomotif AS terancam bangkrut. Hal ini dikhawatirkan memberi multiplier effect kepada ekonomi AS terkait otomotif merupakan sektor terpenting.
Penguatan dolar pun diperkirakan akan berimbas pada pergerakan rupiah, terutama karena ekonomi Indonesia masih terkait erat dengan aktivitas ekspor. "Rupiah melemah di tengah turunnya pasar ekspor," tambahnya.
Di sisi lain, lanjut Ester, BI terus menjaga rupiah tidak melorot lebih jauh dari 13 ribu per dolar AS dan mengarahkan mata uang RI ini ke level 12 ribu per dolar AS. Hal ini terlihat dari antisipasi yang dilakukan BI, terutama dalam mensuplai dolar AS di pasar.
Saat ini masih tingginya permintaan dolar dipicu kebutuhan korporasi dan BUMN untuk pembayaran di akhir tahun. "BI melakukan intervensi dengan masuk ke bank-bank yang butuh dolar AS. Salah satunya adalah memperpanjang fasilitas repo agar likuiditas dolar di bank tidak terganggu," ulasnya.
Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pada perdagangan Selasa (25/11) kembali tenang di level 11.995 per dolar AS. Sementara nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya terpantau melemah.
Rupiah terhadap dolar Singapura melemah ke 8.238,87, atas dolar Hong Kong turun menjadi 1.612,13 , terhadap dolar Australia melemah ke 7.961,89, dan atas euro ditutup melemah ke level 16.037,5.
Adapun dolar AS terhadap sejumlah mata uang asing lainnya terpantau menguat. Dolar menguat terhadap mata uang Jepang dan mata uang gabungan negara Eropa di level 95,76 yen dan 1,283 euro. Kemudian dolar juga naik atas mata uang Hong Kong di HK$ 7,7537, dan naik atas mata uang Korsel ke 1.508,10 won. [E1]