INILAH.COM, Jakarta - PKS betul-betul ingin mengubah citra partai eksklusif menjadi partai tengah dan terbuka. Mulai dari memasang wajah Soeharto dalam iklan hingga dominasi warna kuning dalam simbol partai.
Perubahan tersebut memang dirasakan dalam serangkaian akrobat politik PKS. Selain iklan dan warna, PKS juga sudah mulai mengusung caleg non muslim. Inikah cara instan PKS untuk merubah citra sebagai partai politik eksklusif?
Mungkin saja PKS lupa dengan teori wherever the sign present, the ideology present too atas perubahan tersebut. Argumentasi petinggi PKS atas perubahan warna atribut partai dari putih menjadi kuning saja cukup sulit dinalar. Simak saja alasan Presiden PKS Tifatul Sembiring yang mengatakan perubahan warna itu hanya agar terlihat lebih cerah.
"Tidak ada maksud koalisi dengan Partai Golkar, biar lebih cerah saja," ujarnya enteng.
Memang, warna kuning bukanlah warna asing bagi PKS. Di logo PKS yang mirip berbentuk kabah, tulisan Partai Keadilan Sejahtera dan gambar bulan sabit maupun kapas juga menggunakan warna kuning. Tapi, dominasi warna kuning tetap saja memunculkan banyak tanya.
Salah satu tanya yang terangkat adalah kabar dugaan keterkaitan PKS dengan keluarga Cendana makin menguat. Kehadiran puteri mendiang Soeharto, Titiek, dalam acara silaturahmi ahli waris pahlawan pekan lalu yang memunculkan asumsi lain. Terlebih, PKS membuat kontroversi dengan memasang wajah penguasa Orde Baru itu dalam iklan politik menyambut hari pahlawan.
Sulit memang untuk memungkiri peran Cendana dalam kalkulasi politik nasional. Setidaknya kekuatan finansial mereka dapat menjadi modal politik parpol. Sejauh ini, PKS baru satu-satunya yang ditemui keluarga Cendana secara blak-blakan pasca meninggalnya Pak Harto. Apalagi, saat Pak Harto kritis, PKS memang gencar mewacanakan pemaafan kesalahan Presiden selama 32 tahun itu.
"Saya mengapresiasi PKS," kata Titiek Soeharto mengomentari langkah PKS memasang foto ayahnya dalam iklan politik.
Sementara di saat yang bersamaan, Partai Golkar mengalami dinamika internal yang dinamis. Langkah Ketua Dewan Penasehat Surya Paloh yang menggelar serangkaian aktivitas politik dengan balutan silaturahmi ditambah kesiapan Sultan menjadi RI-1 menjadi bumbu penyedap dalam 'gonjang-ganjing' Partai Golkar. Meski kemudian, para petinggi partai berlambang beringin tersebut menegaskan tetap solid.
Bisa saja dua peristiwa tersebut dikait menjadi benang merah. PKS ingin mengais suara klan Cendana dan limpahan Partai Golkar ramai friksi politik di internal. Sudah tentu, langkah ini wajar dan sah-sah saja. Toh, jikapun ini dimaksudkan atas perubahan warna atribut partai, jelas PKS telah berhitung dengan cerdas.
PKS tampaknya sadar, pasar pemilih yang luas dan besar saat ini masih tersedia di kantung-kantung nasionalis yang direpresentasikan dengan kekuatan PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Sedangkan pasar suara di kantung Islam, kian sesak diperebutkan. Lihat saja perolehan partai-partai Islam dalam dua kali pemilu di era reformasi tidak ada yang sampai mencapai 40%. Pemilu 1999 suara partai Islam atau berbasis ormas Islam digabung hanya terkumpul 37,61%. Sedangkan dalam Pemilu 2004 lalu naik sedikit sebesar 38,34%. Padahal pemilih Islam mayoritas dalam Pemilu.
Manuver warna kuning PKS ini masih membutuhkan pengujian pasar. Jika dalam Pemilu 2009 suara PKS melonjak naik imbas dari inovasi simbolik ini, tentu apa yang dilakukan saat ini jelas tak rugi. Namun, akan berbalik jika perolehan suara justru tak jauh dari hasil Lembaga Survei Indonesia (LSI) awal November ini yang menyebutkan PKS hanya meraih 4,9%.
Boleh saja Tifatul yakin 80 persen pemilihnya tetap loyal terhadap partai. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin dalam politik Indonesia. Artinya, perolehan suara bisa positif naik atau terjun bebas karena salah langkah politik.[L4]