INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Beberapa sentimen negatif masih mengelilingi mata uang lokal ini sehingga sulit menguat. Apalagi kebutuhan dolar AS jelang akhir tahun masih cukup besar.
Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pada perdagangan Rabu (26/11) kembali merosot di level 12.275 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di level 11.995 per dolar AS. Rupiah sepanjang perdagangan hari ini sempat turun hingga 12.400 per dolar AS.
Analis valas Steve Susanto mengatakan, rupiah hari ini bergerak melemah terbatas karena belum adanya sentimen pendukung. Sementara sentimen negatif dari tren bullish-nya dolar AS akibat tingginya permintaan mata uang AS, serta prediksi perlambatan ekonomi ikut menekan pergerakan rupiah.
"Rupiah pun sulit menguat hingga di bawah level 12 ribu per dolar AS, apalagi saat ini pasar valuta asing mengalami kekeringan likuiditas," katanya. Lebih lanjut Steve mengatakan, rencana pemerintah mengguyur pasar keuangan dan sektor riil dengan anggaran belanja 2008 sebelum pergantian tahun, cukup melegakan.
Rencananya, dana sebesar Rp 100 triliun akan dikucurkan untuk tiga pos utama, yaitu membiayai program memberantasan kemiskinan, program pembangunan infrastruktur, serta membayar gaji para pegawai negeri sipil (PNS).
Menteri Keuangan sekaligus Menko Ekonomi Sri Mulyani Indrawati mengatakan, belanja yang sangat besar ini untuk mengejar target sebelum tutup buku APBN Perubahan 2008. Ia pun berharap, pencairan anggaran secara besar-besaran ini akan mencairkan ketatnya likuiditas serta menjadi stimulus ekonomi menjelang tutup tahun 2008.
"Bila hingga November pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8%. Nah, lewat belanja pemerintah secara gede-gedean nanti, mudah-mudahan pertumbuhan ekonomi per Desember terdongkrak jadi 6,2%," tandasnya.
Sementara Direktur Utama PT Finan Corpindo Edwin Sinaga mengatakan, rupiah cenderung melemah akibat kebutuhan dolar AS para importir dan korporasi di pasar domestik yang masih tinggi. Mereka ingin mengamankan stok dolar menjelang jatuh tempo utang di akhir tahun nanti.
Selain itu, langkanya dolar di pasaran juga dipicu kabar bahwa pemerintah AS akan menerbitkan surat utang baru (US Treasury bond). "Rupiah yang selama ini melemah pun menjadi semakin tidak bertenaga," katanya.
Menurut Edwin, pemerintah melalui BI terus mencari solusi dalam mengantisipasi tingginya kebutuhan dolar AS bagi pelaku pasar. BI kemungkinan akan bekerja sama dengan bank sentral negara lain untuk mengatasi kebutuhan dolar AS yang meningkat di pasar domestik.
"Upaya ini diharapkan akan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah yang semakin terpuruk hingga berada di atas angka 12 ribu per dolar AS," tambahnya. Pasar uang domestik saat ini, lanjutnya, masih didominasi aksi beli dolar AS. Pelaku pasar domestik cenderung menyimpan dolarnya karena berharap terus terjadi penguatan.
Sore ini, rupiah berada di level 7.979,41 atas dolar Sinagpura, di level 15.532,73 atas mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.712,54 atas dolar Australia. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !