inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Tekanan Rupiah Makin Longgar

Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Vina Ramitha & Natascha
Kamis, 27 November 2008 | 08:15 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (27/11) diperkirakan masih mengalami pelemahan. Kendati demikian, tekanan yang dialami mata uang lokal ini agak berkurang. Apalagi BI terus berjaga ditambah rencana spending APBN.
Rupiah hari ini diprediksi masih bergerak fluktuatif dengan kisaran lebar. Hal ini dipicu masih tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor dan membayar utang. "Hari ini rupiah akan bergerak di kisaran 11.900-12.900 per dolar AS," ujar analis valas Rakhmat Wibisono kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin .
Menurut Rakhmat, meningkatnya kebutuhan dolar AS sebenarnya merupakan fenomena yang wajar terjadi menjelang akhir tahun. Namun saat ini pemenuhan kebutuhan dolar terasa sangat berat, bahkan intervensi Bank Indonesia pun terseok-seok.
Pasalnya, mata uang Paman Sam ini terus menguat. Sehingga kebutuhan dolar pun meningkat. "Apalagi penarikan likuiditas dolar berlanjut," imbuhnya.
Selain itu, ungkap Rakhmat, setiap akhir tahun, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia yang menggunakan dolar sebagai basis aktivitasnya, melakukan penyeimbangan neraca keuangan dan realisasi profit. "Hal ini menyebabkan tingginya tekanan dolar tidak hanya pada rupiah tapi juga pada mata uang lain," ujarnya.
Namun, BI dinilai bisa menjaga volatilitas rupiah. Meskipun harus diimbangi dengan spending alias pembelanjaan pemerintah sebanyak Rp 120 triliun dan kenaikan defisit anggaran.
Realisasi dana spending dibutuhkan untuk menghindari kejadian di Inggris pada 1998 silam, dimana saat itu, poundsterling luluh lantak terhadap dolar AS serta menguras cadangan devisa negara tersebut. "Kalau realisasi spending, maka defisit budget juga naik," ulasnya.
Sentimen positif datang dari paket dana US$ 800 miliar yang dikucurkan pemerintah AS guna menyelamatkan sektor keuangan AS. Perinciannya adalah, US$ 600 miliar digunakan untuk membeli utang dan mortgage-backed securities dan US$ 200 miliar untuk meningkatkan ketersediaan kredit konsumsi.
Paket ini akan membanjiri pasar dengan likuiditas dolar sehingga mengerem penarikan mata uang negara Paman Sam itu dari pasar negara berkembang. Kendati demikian, hal ini tidak bisa langsung terlihat pada penguatan rupiah karena kondisi dalam negeri yang kering likuiditas.
"Tekanan dolar terhadap nilai tukar mata uang lainnya agak berkurang, namun tidak langsung mendukung penguatan dolar, hanya mengerem kejatuhan rupiah," tambahnya lagi.
Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta Rabu (26/11) melemah di level 12.275 per dolar AS. Sementara nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup menguat.
Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 8.127,53, atas dolar Hong Kong naik menjadi 1.582,83, terhadap dolar Australia melemah ke 7.970,77 dan atas euro ditutup menguat ke level 15.934,79 .
Sedangkan dolar AS terhadap sejumlah mata uang asing lainnya cenderung bervariasi. Dolar terhadap mata uang Jepang melemah di 95,14 yen, menguat atas mata uang gabungan negara Eropa di level 1,298 euro.
Kemudian dolar atas mata uang Hong Kong naik di HK$ 7,7551, atas mata uang Singapura turun ke S$ 1,5103 dan atas mata uang Korsel turun ke 1.487,80 won. [E2/E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.