SUNGAI-sungai ini tidak pernah hilang dari benak saya: Mahakam dan Kapuas di Kalimantan, Musi dan Siak di Sumatera genangan air yang besar dan bergerak perlahan, warnanya seperti teh susu dan ramai dilalui kapal-kapal yang bersimpang siur.
Saya hanya pernah melihat aliran rendahnya saja dari sungai-sungai ini, tapi suatu hari nanti saya berharap bisa berpetualang ke bagian sungai yang lebih tinggi.
Saya selalu dibuat terpukau oleh hamparan sungai-sungai yang begitu luas ini. Saya dapat menghabiskan waktu berjam-jam hanya memandangi aliran airnya, merokok batang demi batang kretek, sambil membayangkan kekayaan dan muatan sejarah yang terkandung di dalamnya.
Di Siak Indrapura, sebuah kota kaya minyak di Riau, di seberang Istana Maimun yang megah, saya mengamati lalu lalang berbagai jenis kapal melintasi sungai.
Ini adalah ekosistem transportasi air otentik. Dari sampan nelayan yang didayung secara manual hingga perahu bermesin tunggal, sampai feri dengan bodi berkarat dan kapal-kapal bermesin besar yang mengangkut tangki minyak dan kayu gelondongan.
Beberapa kapal besar ini berselimutkan terpal, tak ubahnya seperti para ibu yang terbalut jilbab tadi, seolah-olah pemiliknya ingin menyembunyikan kayu-kayu mentah yang tingginya bisa mencapai 15 meter itu.
Sikap ekstra hati-hati seperti ini kadang tampak terlalu berlebihan. Hal yang sama juga bisa ditemui di Samarinda, sebuah kota sibuk di tepi Sungai Mahakam.
Kekayaan hutan di sana secara perlahan tapi pasti dipindahkan melalui 'jalan tol' air di sungai-sungai ini.
Namun, di Kalimantan Timur, kapal-kapal besar ini juga mengangkut batu bara dalam jumlah yang sangat besar tumpukan hitam legam yang berkilat diterpa sinar matahari.
Saya pernah mencoba menghitung jumlahnya, tapi terlalu banyak; sama banyaknya dengan situs tambang terbuka di kota itu yang semakin tidak terkontrol jumlahnya.
Dan akhirnya, di Palembang, saya pernah duduk menghirup secangkir kopi, tak jauh dari Jembatan Ampera. Di sebelah kiri saya adalah Benteng Kutok Besek yang berdiri dari abad ke-18.
Dari sudut pandang saya, ditingkahi angin sepoi-sepoi di wajah, saya melihat rumah-rumah apung nun jauh di sisi sungai sebelah sana, dan barisan perahu kecil yang saling silang jalan di titik temu yang bersejarah ini.
Pernah saya mengikuti pelesir makan malam menyusuri Sungai Musi, melewati area plantasi PT Pupuk Sriwijaya yang besar. Bunyi-bunyian yang datang dari sana membuat saya merasa sedang berada dalam film tentang masa pasca kiamat yang muram.
Lepas dari panoramanya, sungai merupakan nadi yang menghidupi kedua pulau di Indonesia ini, dan menjadi penghubung transportasi yang vital. Sungai menjadi sebuah berkah sekaligus kutukan mengairi tanah sekaligus mempercepat kerusakannya.
Tak terhitung banyaknya bahan industri mentah yang ada di sungai ini, sebuah sumber kekayaan yang tak terkira bagi perekonomian Indonesia.
Bisa dibilang, tanpa Sumatera dan Kalimantan, Jawa tidak ubahnya Bangladesh-nya Asia Tenggara: penuh sesak dan miskin sumber daya.
Dengan diangkut dan dipindahkannya sumber daya ini ke tempat lain, yang tersisa bagi penduduk lokal adalah lanskap tandus dan telanjang, yang rawan banjir sekaligus gersang dan panas sepanjang tahun.
Namun begitu, kota seperti Palembang perlahan meninggalkan siklus yang merugikan ini. Seperti kota-kota lain yang telah saya sebutkan, ibukota Sumatera Selatan ini sangat tergantung dengan sungainya.
Bagaimanapun, Sungai Musi adalah jantungnya kerajaan maritim Sriwijaya, bahkan sampai beroleh julukan 'Venezia dari Timur'.
Alih-alih hanya bergantung pada sumber daya alamnya saja, Palembang mulai mengubah dirinya menjadi titik hubung layanan.
Fokus perekonomian perlahan berganti ke berbagai aktivitas seperti logistik dan industri pabrik.
Zona industri Tanjung Api-Api adalah sebuah usaha yang berani untuk mengubah model perekonomian Sumatera Selatan, yang akan membawa aktivitas ekonomi yang lebih berkualitas bagi propinsi ini.
Tidak ada yang tahu apakah ini akan berhasil, tapi paling tidak rakyat Sumatera Selatan sudah melakukan hal yang benar dengan berusaha demi kepentingan mereka.
Masa depan Palembang yang cerah ini sedikit banyak karena tangan dingin Gubernur Alex Noerdin dan Walikota Eddy Santana Putra. Mereka juga dibantu sistem desentralisasi dari otonomi daerah, yang memungkinkan kota seperti Palembang menentukan sendiri jalan pembangunan mereka, independen dari Jakarta.
Pariwisata juga menjadi semakin penting. Palembang akan menjadi tuan rumah bagi Southeast Asian (SEA) Games 2011, dan usaha Eddy membersihkan Sungai Musi telah mengubah bagian kota yang tadinya berbahaya menjadi harta kekayaan kota paling berharga.
Dengan perkembangan terakhir ini, serta tradisi sejarah yang terbentuk dari kepiawaian Sriwijaya dalam berdagang, Palembang dan Sumatera Selatan sedang berada di ambang kemakmuran yang baru dan posisi strategis yang penting.
Sementara saya akan selalu kembali ke sana untuk sekadar menikmati pemandangan sungainya. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !