Minggu, 27 Mei 2012 | 02:50 WIB
Follow Us: Facebook twitter
PKS Melambung atau Nyungsep?
Oleh:
web - Kamis, 27 November 2008 | 06:35 WIB
Akhir-akhir ini PKS (Partai Keadilan Sejahtera) jadi buah pembicaraan, apa pasal? Ini terkait dengan iklan politik kontroversialnya yang menempatkan Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa, padahal di sisi lain mantan penguasa orde baru itu dianggap punya catatan buruk selama menjadi presiden.

Reaksi atas penayangan iklan itupun beragam, ada yang setuju sebagai upaya rekonsiliasi, ada juga yang menentang keras dan meminta iklan tersebut tidak ditayangkan lagi.

Pihak yang pro beranggapan, penayangan iklan tersebut merupakan upaya rekonsiliasi untuk memajukan bangsa sehingga tidak terpecah belah. Soeharto adalah bagian dari sejarah Indonesia karena telah memimpin negeri ini selama 32 tahun.

Ia juga hanyalah manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu segala kesalahannya sebaiknya dikubur dan dijadikan pelajaran dan kebaikan dan prestasinyalah yang menjadi pijakan untuk melangkah ke masa depan.

Sedangkan pihak yang kontra melihat sebaliknya. Upaya PKS ini untuk kepentingan politik 2009 semata. Niat rekonsiliasi yang disemai hanya sebagai tameng untuk meraup konstituen yang masih simpati dan rindu akan
kepemimpinan bapak pembangunan tersebut.

Terlebih lagi, PKS juga 'mencomot' tokoh-tokoh ormas massa besar seperti KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy'arie (Nahdlatul Ulama).

Oleh karena itu, alasan PKS tentang rekonsiliasi pun dapat digugurkan segera, menurut saya, apa yang dilakukan PKS sah-sah saja terlebih lagi menjelang Pemilu 2009.

Menampilkan Soeharto sebagai pahlawan juga hak PKS selaku pembuat iklan, toh legalitas gelar pahlawan berada di tangan pemerintah. Dan dalam ruang demokrasi, setuju dan tidak diserahkan kepada publik. Ini terkait dengan tingkat elektibilitas 'partai dakwah' ini di pemilu nanti.

Jika prosentase suara PKS menanjak, bisa jadi publik melihat iklan ini positif namun jika perolehannya stagnan atau malah menurun berarti iklan itu gagal dan memberi efek negatif.

Oleh karenanya, iklan ini bisa menjadi indikator bagi kelangsungan partai pimpinan Tifatul Sembiring ini. Partai yang selama ini dianggap eksklusif dan lebih 'kanan' saat ini berusaha meraup suara di tengah, tempat berkerumunnya massa mengambang.

Persoalannya, apakah idealis PKS akan tergerus juga seiring strategi 'turun gunung' yang dimainkannya? Ini juga menjadi ujian bagi PKS di saat harus tetap mempertahankan massa ideologisnya. Di sisi lain harus menceburkan diri ke massa yang lebih plural dengan konsekuensi negatifnya, adalah PKS akan terlihat seperti partai kebanyakan saat berebut massa.

Dan ketika tak berbeda dengan partai lainnya, kenapa harus memilih PKS?

Muhammad Wahdini, mwahdini@gmail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.