INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (28/11) masih mempunyai peluang untuk terapresiasi. Namun, ada indikator yang bisa menekan pergerakan rupiah, yaitu dari penguatan mata uang AS dan Jepang.
Analis valas Andri Zacharias mengatakan, rupiah di akhir pekan secara teknikal masih akan melemah. Namun, pelemahan masih akan tertahan karena ada dana yang masuk ke pasar modal. Ini terindikasi dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terdongkrak naik.
"Rupiah hari ini akan bergerak dengan kisaran 12.000-12.500 per dolar AS," papar Andri, di Jakarta, semalam. Menurutnya, secara eksternal, dolar AS masih mengalami tekanan dari sejumlah mata uang kuat. Namun, hal ini tidak membawa imbas terlalu besar pada pergerakan rupiah.
Bahkan, lanjutnya, rupiah pekan depan diperkirakan akan kembali melemah, terkait inflasi yang masih tinggi akibat kenaikan barang impor. "Jadi inflasi dari depresiasi nilai tukar rupiah sudah mengancam," tambahnya.
Hal senada diungkapkan analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih. Menurutnya, angka inflasi untuk November 2008 jauh lebih rendah dibandingkan inflasi Oktober yang sebesar 0,45%. Sehingga, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan depan diperkirakan akan memangkas BI rate untuk terakhir kalinya.
"Dengan tekanan inflasi yang melemah sepanjang November, dan tekanan naik pada Desember, tetapi akan turun lagi pada Januari mendatang, ada peluang BI untuk memotong suku bunga BI turun sebesar 25 basis poin," jelasnya.
Menurut Lana, pertimbangan penurunan suku bunga BI rate ini juga berdasarkan pada tingginya tuntutan dunia usaha. Sejak lama pengusaha mendesak BI untuk menurunkan suku bunganya seiring kelesuan ekonomi global yang berimbas pada sektor manufaktur dan UMKM domestik.
Andri kembali memaparkan, saat ini sentimen dolar masih negatif terkait paket stimulus ekonomi dari pemerintah AS sebesar US$ 800 miliar. Pasar khawatir stimulus ini akan mengirimkan sinyal negatif untuk tingkat utang jangka panjang.
Pasalnya, aset yang akan dibeli dengan dana stimulus tersebut merupakan aset bermasalah sehingga harganya diperkirakan terus merosot. "Investor pun khawatir akan kondisi neraca keuangan The Fed sehingga kredibilitas lembaga ini pun terancam," ujarnya.
Namun, pelemahan rupiah bukan hanya disebabkan penguatan dolar, tapi juga naiknya mata uang Jepang yaitu yen. Menurut Andri, sebanyak 60% utang Indonesia berdenominasi yen.
Sedangkan saat ini, nilai tukar rupiah terhadap yen berada di level 130 dan penguatan mata uang itu masih berpotensi berlanjut. "Hal ini terdorong repatriasi dana kembali ke yen guna membayar pinjaman (unwinding carry trade)," jelasnya.
Investor saat ini juga melihat yen sebagai safe haven currency, karena obligasi pemerintah Jepang adalah surat utang yang terbaik selain US Treasury. Seperti diketahui, pemegang dana cash terbesar dunia adalah Jepang. "Hal ini pun akhirnya memperkuat posisi yen dan dolar terhadap rupiah," ulasnya.
Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pada perdagangan Kamis (27/11) menguat 80 poin ke level 12.195 per dolar AS. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup bervariasi.
Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke 8.120,52, turun atas dolar Hong Kong menjadi 1.589,74, melemah terhadap dolar Australia ke 8.162,81 dan menguat atas euro ke level 15.924,10 .
Sementara dolar AS terhadap sejumlah mata uang asing lainnya cenderung melemah. Dolar turun atas mata uang Jepang dan mata uang gabungan negara Eropa di level 95,36 yen dan 1,294 euro. Dolar juga melemah atas mata uang Hong Kong di 7,7528 , melemah atas mata uang Singapura ke 1,5099 dan atas mata uang Korsel turun ke 1.483,40 won. [E1]