INILAH.COM, Jakarta Tak ingin kehilangan pertumbuhan, vendor ponsel melindungi produknya agar tetap mampu dibeli konsumen. Dengan menahan kenaikan harga jual, konsumen diuntungkan namun dampaknya margin laba produsen makin tergerus.
Assistant Marketing Communication Manager PT Samart i-Mobile Indonesia, Airin Sebastian Widjaja mengatakan, turunnya daya beli konsumen menyebabkan permintaan produk konsumtif semacam ponsel turun.
Agar konsumen tetap membeli ponsel, Samart i-Mobile mempertahankan harga ponselnya, meskipun dolar telah berada di level 12 ribu naik 30% dibandingkan bulan lalu.
"Harga tetap sama. Kami berkomitmen mempertahankan harga yang ada agar pertumbuhan tetap ada. Bagaimana naik kalau daya beli seperti sekarang," katanya, di Jakarta, kemarin.
Dengan melonjaknya dolar yang mencapi 30% , sangat sulit mendapat keuntungan memadai dari hasil penjualan. Namun i-Mobile masih bertahan untuk tidak melakukan subsidi. Dengan mempertahankan harga tidak naik, i-Mobile masih mendapat keuntungan meskipun sangat tipis.
Selain itu kegiatan marketing juga tidak mengalami pengurangan. Roadshow masih terus dijalankan. Terutama untuk mendongkrak penjualan produk murah i-Mobile yang dipatok di bawah Rp 1 juta. "Untuk produk i-Mobile dengan harga Rp 400 ribuan demandnya yang tertinggi," katanya.
Samart I-mobile memulai bisnis di Indonesia pada 2006 lewat kerja sama dengan XL. Di Thailand, i-Mobile merupakan vendor ponsel terbesar nomor dua dengan pangsa pasar 30%. Vendor ini sedang berusaha memperluas pasarnya ke beberapa wilayah di Timur Tengah, Asia Tengah, dan negara non-Uni Eropa.
Airin mengatakan i-Mobile tidak akan merevisi target penjualan 1 juta unit hingga akhir tahun. Bahkan ia meyakini dalam dua bulan terakhir merupakan momen konsumen melakukan pembelian ponsel.
"Kami optimistis target masih bisa tercapai, tahun depan tentunya target lebih besar dari tahun ini. Mudah-mudahan krisis tidak terlalu berpengaruh," kata Airin.
Sama dengan i-Mobile, vendor ponsel Korea Selatan LG juga melakukan langkah pengaman terhadap produknya. General Manager Sales dan Marketing LG Electronics Indonesia Andre Tan mengatakan harga handset LG mengalami kenaikan.
Namun dengan melakukan proteksi terhadap dolar, produk ponsel LG di pasar tidak mengalami kenaikan terlalu tinggi. Bahkan untuk ponsel murah LG, kenaikan hanya Rp 10-20 ribu.
Andre memperkirakan, ponsel-ponsel berharga terjangkau pada saat ini akan mengalami kenaikan demand. Namun setelah situasi ekonomi membaik dan dolar mencapai tingkat keseimbangan baru, maka konsumen akan kembali mencari ponsel dengan fitur lebih baik.
Sementara untuk vendor ponsel kelas atas sulit mencegah agar harga produknya tidak naik. Direktur PT Sistech Kharisma distributor ponsel pintar HTC di Indonesia, John Kurniawan mengatakan, praktis harga-harga ponsel HTC ikut naik mengikuti kenaikan dolar yang mencapai 30%. "Nyaris kenaikan sama dengan kenaikan dolar," imbuhnya.
Ia menjelaskan, HTC hanya bermain di segmen ponsel kelas atas. Mau tidak mau harga ponsel HTC terus berfluktuasi mengikuti tingkat nilai tukar dolar. Akibatnya penjualan ponsel HTC turun 30-40%.
"Kondisinya tidak berbeda dengan di AS. Konsumen ponsel kelas atas di Indonesia juga bermain di saham dan efek, yang paling terkena dampak dari krisis finansial belakangan ini," kata dia.
John mengatakan, menghadapi krisis, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Namun promosi tetap dijalankan. Termasuk tidak melakukan perubahan jadwal peluncuran produk baru. "Harusnya produk baru bisa mengangkat penjualan, konsumen Indonesia suka yang baru," imbuhnya.
HTC biasa mengeluarkan ponsel baru setahun tiga kali atau tiap kuartal selalu muncul produk baru. Saat ini HTC baru merilis tiga seri ponsel dengan kisaran harga Rp 5 juta hingga Rp 8 juta. [E1]