inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Kebutuhan Dolar Masih Tinggi

Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Asteria & Natascha
Senin, 1 Desember 2008 | 07:28 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (01/12) diperkirakan bergerak fluktuatif. Tingginya permintaan dolar AS masih akan menekan rupiah, namun sentimen positif datang dari berlakunya Peraturan Bank Indonesia (PBI) per hari ini.
Analis Bank Niaga Emmanuel Kurniawan mengatakan, rupiah hari ini masih bergerak volatile akibat tingginya permintaan dolar AS. Hal ini dipicu kebutuhan korporasi terkait kegiatan impor dan membayar pajak serta meningkatnya konversi pinjaman nasabah yang berdenominasi dolar.
"Mata uang negara Paman Sam ini dibutuhkan nasabah perbankan untuk membayar pinjaman dalam bentuk mata uang dolar yang mereka miliki," papar Emmanuel, kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, para nasabah khawatir dolar akan melesat lagi hingga level 15-17 ribu per dolar AS, sehingga bila rupiah mengalami sedikit penguatan, mereka langsung melakukan aksi beli.
Hal inilah yang mendasari mata uang RI sulit menguat menembus level 12 ribu per dolar AS. "Setiap kali rupiah menguat, langsung terjadi buyback dolar," tambah Emmanuel.
Sentimen positif datang dari berlakunya PBI mulai hari ini yang diperkirakan dapat mengerem permintaan dolar. PBI No. 10/28/PBI/2008 itu berisikan tentang pembelian valuta asing terhadap rupiah kepada bank yang dibatasi hingga US$ 100.000 per bulan keculai ada underlying transaksi.
Sementara itu, BI masih akan terus melakukan intervensi, meskipun terbatas. Menurutnya, BI hanya masuk pasar bila rupiah mengalami pelemahan signifikan. BI pun menyatakan hanya akan mensuplai permintaan dolar untuk kebutuhan impor dan permintaan yang mempunyai underlying.
Sedangkan Head of Research Recapital Securities Poltak Hotradero memperkirakan, BI akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya (BI rate) di level 9,5% pada Raat Dewan Gubernur (RDG) BI pekan ini. "Hal ini untuk mengamankan nilai tukar rupiah terhadap mata uang lainnya," ujarnya.
Menurut Poltak, beberapa negara dengan peringkat lebih baik, seperti Malaysia dengan rating A serta Brazil dengan rating BBB, tetap mempertahankan suku bunga acuannya.
Berbeda jauh dengan rating Indonesia yang hanya BB. Sehingga, bila BI memangkas suku bunganya, tidak akan menguatkan nilai tukar rupiah, namun justru memicu investor angkat kaki dari pasar domestik. "Karena masih banyak negara yang ratingnya lebih bagus," imbuhnya.
Poltak pun menilai bahwa BI seharusnya menahan BI rate, setidaknya hingga Januari 2009 mendatang, yaitu ketika bank sentral negara lain diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuannya.
Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pada perdagangan Jumat (28/11) akhir pekan lalu menguat 45 poin ke level 12.150 per dolar AS. Demikian juga nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya.
Rupiah naik terhadap dolar Singapura ke level 8.050,10, menguat atas dolar Hong Kong menjadi 1.567,66, naik terhadap dolar Australia ke 7.986,80 dan naik atas euro ke level 15.635,83.
Sementara dolar AS terhadap sejumlah mata uang asing lainnya cenderung melemah. Dolar terkoreksi atas mata uang Jepang dan mata uang gabungan negara Eropa di level 95,26 yen dan 1,286 euro.
Dolar juga melemah atas mata uang Hong Kong di level HK$ 7.7504, turun atas mata uang Singapura ke level S$ 1.5093 dan stabil atas mata uang Korsel di level 1.483,40 won. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.