Sabtu, 26 Mei 2012 | 10:38 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Harga Solar Dipertimbangkan Turun
Headline
Ist
Oleh:
web - Senin, 1 Desember 2008 | 15:16 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah akan mengkaji apakah penurunan harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis premium mulai 1 Desember 2008 juga akan diikuti dengan penurunan harga solar pada Januari 2009.

Dalam konferensi pers di Istana Merdeka Jakarta, Senin (1/12), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan kajian untuk menurunkan harga jual solar merupakan salah satu usaha untuk meringankan beban rakyat, meski juga harus memperhitungkan kemampuan anggaran negara.

"Kita baru saja menurunkan BBM, kita lihat apakah bulan depan solar juga bisa turun. Upaya untuk meringankan beban rakyat harus dilakukan sepanjang 'klop' dengan upaya penyelamatan perekonomian secara utuh," kata Presiden.

Saat menyampaikan pidato pembukaan masa persidangan kedua di Gedung DPR RI, Senin (24/11), Ketua DPR RI Agung Laksono meminta pemerintah untuk mengkaji pula penurunan harga jual solar.

Dewan berpendapat, penurunan harga premium sebesar Rp500 per liter mulai 1 Desember 2008 itu merupakan langkah positif, walaupun pemberlakuannya terlalu lama.

"Tetapi, angka penurunan ini harus dihitung kembali hingga dapat lebih besar dari Rp 500 karena adanya kenyataan bahwa harga minyak dunia makin turun," tegasnya.

Ketua DPR juga menilai, penurunan yang sama juga harus dilakukan pada harga solar.

"Dengan begitu, diharapkan daya beli masyarakat akan naik dan pada gilirannya meningkatkan sektor riil, mengingat bahan bakar minyak (BBM) jenis solar lebih bermanfaat dan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat yang menggunakan angkutan umum juga para nelayan," ungkapnya.

Sebelumnya, Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo mengatakan, penurunan harga premium bersubsidi yang dilakukan per 1 Desember 2008 disesuaikan dengan ketersediaan anggaran.

"Anggaran yang tersisa tahun ini hanya cukup menurunkan harga premium mulai 1 Desember 2008," katanya.

Menurut dia, harga BBM bersubsidi akan dilakukan penyesuaian setiap bulan sekali mengikuti harga minyak dunia.

Sebelumnya, Evita mengatakan, realisasi anggaran subsidi 2008 hingga Oktober sudah mencapai Rp 130 triliun atau melampaui pagu APBN Perubahan sebesar Rp 126 triliun.

Subsidi BBM, lanjutnya, akan bertambah sekitar Rp 3 triliun jika harga BBM bersubsidi diturunkan antara Rp 500-Rp 800 per liter pada tahun ini.

Menko Perekonomian Sri Mulyani mengumumkan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (27/11), harga premium bersubsidi turun Rp 500 per liter dari sebelumnya Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter.

Penurunan BBM itu dilakukan menyusul turunnya harga minyak dunia sekarang ini.

Pemerintah berharap penurunan premium bersubsidi akan membawa dampak berantai bagi upaya mengurangi beban dunia usaha dan masyarakat.

Penurunan harga BBM juga pernah terjadi pada 21 Januari 2003 saat pemerintahan dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri.

Saat itu, harga BBM diturunkan setelah mendapat tekanan demonstrasi menyusul keputusan pemerintah menaikkan harga per 2 Januari 2003.[*tra]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.