MALAYSIA mulai menyadari besarnya potensi Indonesia. Namun, saya ingin membina hubungan lebih baik antara Malaysia dan Indonesia dalam beberapa aspek terutama di luar hubungan Kuala Lumpur dan Jakarta.
Saya menyebutnya 'hubungan daerah ke daerah', di mana kebijakan desentralisasi banyak membantu hubungan ini. Banyak peluang terbuka. Ibukota provinsi seperti Makassar, Balikpapan, Medan dan Palembang menjadi semakin penting.
Perkembangan ini juga memberikan keuntungan bagi beberapa negara bagian Malaysia, terutama kota seperti Penang, Kuching dan Kota Kinabalu. Ini sangat wajar, karena kota-kota inilah paling dekat dengan Sumatera dan Kalimantan yang kaya sumber daya alam.
Pekan lalu saya berada di Kota Kinabalu, menjadi pembicara dalam diskusi peluang bisnis antara Sabah dan Kalimantan Timur. Saya mendapat undangan bersama dengan beberapa tamu dari Indonesia.
Diskusi berlangsung hangat, tetapi saya cukup terkejut mengetahui betapa orang Malaysia tidak terlalu mengenal Indonesia. Sedikit sekali warga Sabah yang mengetahui daerah-daerah di Indonesia seperti Balikpapan. Sementara semua orang Indonesia yang hadir sudah pernah ke Kota Kinabalu.
Terlebih lagi, kebanyakan para pengusaha Malaysia terlalu Jakarta-centric, semua aktivitas bisnisnya terpusat di Jakarta. Sementara warga Sabah menganggap diri mereka terlalu terisolasi.
Tapi, saya selalu merasa kalau lokasi daerah yang dijuluki Land Below the Winds ini sangat tepat menjadi titik hubung yang berguna bagi Indonesia bagian timur.
Sayangnya, persepsi warga Malaysia terhadap Indonesia dipengaruhi isu-isu bilateral seperti imigrasi ilegal. Alhasil, warga Sabah menjadi bersikap sangat hati-hati terhadap orang Indonesia.
Namun, Kalimantan Timur adalah provinsi terkaya di Indonesia. Dengan PDB (produk domestik bruto) lebih dari US$28 miliar dan populasi tiga juta jiwa, menjadikan PDB per kapita Kaltim tertinggi di Indonesia, antara US$8.500US$9.000. Ini mencerminkan besarnya kekayaan sumber daya alam provinsi: batu bara, kelapa sawit, minyak bumi, dan gas alam.
Selain itu, kota-kota besar di provinsi ini Balikpapan dan sang raksasa tambang batu bara Samarinda merupakan kota yang sangat berkembang atau booming metropolis.
Daya beli rakyat Indonesia juga semakin kuat. Contohnya, orang-orang kaya di Balikpapan seringkali berpergian ke Jakarta (lebih dari 15 jadwal penerbangan langsung per hari) dan Surabaya (12 jadwal penerbangan langsung). Meskipun demikian, tidak ada penerbangan langsung ke Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu.
Sebagian besar penduduk Kalimantan belum menyadari Kota Kinabalu adalah kota sangat menyenangkan. Tidak adanya penerbangan langsung ke sana menjadi satu hambatan cukup besar. Dan ironisnya, hal ini dibiarkan saja, padahal Indonesia adalah sumber wisatawan paling besar ke Sabah.
Perbedaan persepsi ini datang dari kedua pihak. Para pengusaha Indonesia juga sering terlalu fokus pada Kuala Lumpur, dan tampak tidak menyadari potensi dari negara bagian lain di Malaysia.
Penang diuntungkan pertumbuhan daerah Sumatera Utara. Diperkirakan 30-40% dari tingkat okupansi rumah sakit swasta di Penang berasal dari Indonesia. Begitu juga di bidang properti dan institusi pendidikan swasta.
Kenapa hubungan semacam ini tidak bisa terjadi antara Kalimantan Timur dan Sabah? Bukankah kedua pihak sama-sama diuntungkan?
Namun situasi ini akan segera berubah. Rencana penerbangan langsung Sabah dan daerah Indonesia bagian Timur sedang digodok mudah-mudahan terealisir akhir tahun ini.
Sesungguhnya saya menyadari betapa besarnya potensi Sabah ketika sedang berbincang dengan salah satu tamu diskusi, Pak Zainal Muttaqin. Tak seperti kebanyakan wartawan lain, Pak Zainal bisa dibilang pendiam.
Ia terlihat sangat menikmati kunjungannya ke Sabah. Kalimat khasnya yang selalu diucapkan dengan kilatan mata nakal adalah 'Sikit-sikit, boleh lah, Pak Karim'.
Dan, jangan terkelabui dengan tubuhnya yang kecil dan pembawaannya yang rendah hati. Pak Zainal yang tinggal di Balikpapan ini adalah pengusaha ulung, direktur organisasi media cetak besar di Indonesia, grup Jawa Pos.
Setelah bertahun-tahun tidak menginjakkan kaki di Kota Kinabalu, Pak Zainal cukup terpukau dengan perkembangan kota ini. Menurutnya, orang Indonesia pasti senang dengan suasana kota yang ramah dan aman. Berkali-kali dia mengatakan kota ini begitu 'lengkap' dengan segala fasilitasnya.
Walaupun pertemuan dan perjanjian bilateral adalah hal penting, kita juga membutuhkan rasa percaya dan ikatan persaudaraan yang lebih kuat untuk mendekatkan hubungan kita.
Tapi ini tidak bisa instan. Butuh waktu, energi, dan, tentu saja, rute penerbangan langsung.
Saya berharap akan tetap bisa memberikan kontribusi bagi proses ini terutama hubungan daerah ke daerah yang saya maksud di awal. Mungkin tidak banyak, tetapi mudah-mudahan bisa membuka peluang yang lebih besar bagi penduduk di luar Jakarta. Atau, seperti yang Pak Zainal bilang, Sikit-sikit bolehlah, Pak Karim. [mor]