INILAH.COM, Washington - Tujuh minggu lagi George W Bush akan meninggalkan kursi kepresidenan AS. Untuk pertama kalinya Bush membuat pengakuan secara terbuka. Penyesalan terbesarnya adalah kekeliruan intelijen hingga menyebabkan konflik di Irak.
"Penyesalan terbesar saya selama menjabat sebagai presiden adalah kegagalan intelijen di Irak," ucap Bush dalam wawancara dengan televisi ABC seperti dilansir telegraph.co.uk, Selasa (2/12).
Menurut dia, banyak orang mempertaruhkan reputasi mereka dan mengatakan senjata penghancur massal adalah salah satu alasan untuk menggulingkan pemerintahan Saddam Huseein di Irak. Itu bukan hanya pendapat orang-orang di dalam pemerintahannya, tapi juga sejumlah anggota Kongres, sejumlah pemimpin negara di dunia.
Namun Bush menolak menjawab pertanyaan apakah AS tetap akan berperang jika dirinya mengetahui Saddam Hussein tidak memiliki senjata pemusnah massal.
"Saya pikir saya tidak siap berperang. Dengan kata lain, saya tidak berkampanye dan mengatakan 'pilih saya, saya akan bisa menghandle serangan. Dengan kata lain, saya tidak mengantisipasi perang," kata Bush.
Bush dijadwalkan meninggalkan Gedung Putih dengan membawa rekor dukungan yang rendah akibat perang di Irak dan Afghanistan serta krisis keuangan yang dihadapi negeri itu sekarang.
Lebih dari 4.299 prajurit AS tewas di Irak sejak perang dilancarkan pada Maret 2003 akibat laporan intelijen yang menyatakan pemerintah Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal -- laporan yang belakangan terbukti keliru.
Namun, Bush mengatakan kebanyakan waktunya di Gedung Putih "menyenangkan" karena "pendapat dapat melayani bangsa yang anda cintai". Ia berharap ia dapat dikenang oleh rakyat Amerika sebagai orang yang "tak menjual jiwanya buat politik, harus membuat keputusan berat dan melaksanakannya dengan cara penuh prinsip".
"Saya akan meletakkan jabatan presiden dengan kepala tegak," kata Bush.[sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !