Minggu, 27 Mei 2012 | 04:41 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Gelinding Investasi Dana Buruh
Headline
Hotbonar Sinaga - Ist
Oleh: Ibrahimsyah
web - Kamis, 4 Desember 2008 | 11:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Guliran dana milik pekerja di pasar investasi makin menggelinding saja. PT Jamsostek, institusi pengelola dana buruh itu menanamkannya ke sektor saham dan obligasi. Khusus saham, pada kuartal terakhir ini, gelontorannya mencapai Rp 1 triliun.
Jamsostek, sebagaimana dikemukakan Direktur Utama Hotbonar Sinaga, akan membatasi investasi di sektor saham sebesar maksimal 15% dari total dana kelolaan yang saat ini mencapai Rp 60 triliun. Sedangkan dana yang akan ditempatkan di obligasi, portofolio investasinya juga dikurangi dari sebelumnya sekitar 50,8% menjadi 45% saja.
Toh, pembatasan di sana-sini itu tak mengurangi kucuran dana pekerja ke dalam beragam bentuk investasi. Di saham, misalnya, antara September hingga akhir November lalu, BUMN ini telah membelanjakan dana sebesar Rp848 miliar untuk membeli sejumlah saham unggulan.
Beberapa saham yang diborong Jamsostek antara lain adalah PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Astra Internasional Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Timah Tbk, PT United Tractors Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, dan PT Unilever Indonesia Tbk. Sejumlah perusahaan dengan tingkat fluktuasi nilai saham yang nyaris aman.
Hotbonar mengklaim sejauh ini perseroan tidak memiliki saham PT Bumi Resources Tbk. BUMI sendiri termasuk salah satu saham di Bursa Efek Jakarta yang tergerus tajam nilainya setelah krisis finansial melanda dunia.
Dia mengatakan hingga akhir tahun ini, Jamsostek akan membelanjakan lagi dana kelolaannya sebesar Rp200 miliar ke saham. Dengan begitu, total dana yang dibelanjakan selama kuartal IV tahun ini mencapai Rp1 triliun ke sektor saham.
Total dana kelolaan Jamsostek yang diinvestasikan ke obligasi sebesar Rp29,53 triliun yang setara dengan 51,5% dari total dana. Selanjutnya, investasi ke deposito sebanyak Rp18,27 triliun yang setara dengan 32,25%, investasi ke saham sebanyak Rp7,69 triliun yang setara dengan 13,5%, dan reksa dana sebanyak Rp1,8 triliun yang setara dengan 3,1%.
Khusus untuk obligasi, Jamsostek menyatakan minatnya untuk menyerap obligasi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) senilai Rp 300-450 miliar. Nilai ini mencerminkan 20-30% dari total surat utang yang ditawarkan oleh PLN senilai Rp1,5 triliun. Seiring dengan respon pasar yang membaik, PLN membuka kemungkinan untuk menambah jumlah surat utang yang diterbitkan.
Menurut Hotbonar, perseroan telah menyatakan minatnya kepada jajaran direksi PLN untuk membeli surat utang tersebut. Indikasi kupon yang ditawarkan PLN cukup menarik sehingga institusinya siap untuk menyerap surat utang yang akan diterbitkan tersebut.
Sebelumnya, PLN menawarkan kisaran bunga sebesar 15,75-16,78%. Suku bunga obligasi PLN seri A dengan tenor lima tahun setara dengan kupon surat utang negara (SUN) seri FR 20 ditambah 50-150 basis poin. Untuk bunga obligasi seri B bertenor tujuh tahun setara dengan SUN Seri FR 27+ FR 28 dibagi dua, ditambah 50-150 basis poin.
Menurut Dirut Jamsostek itu, rencana perseroan membeli obligasi tersebut juga dalam rangka menjalankan strategi investasi dengan mengurangi portofolio investasi di saham. Ini, agaknya, erat dengan kondisi fluktuasi banyak emitem yang belum kondusif sejak krisis finansial. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.