Jakarta - Meneg BUMN Sofyan Djalil menyayangkan pengusaha SPBU yang tidak mau menanggung rugi pada tanggal 1 Desember 2008 lalu. Akibat ulah mereka, terpaksa Pertamina (Persero) harus mensubsidi premium untuk memenuhi kebutuhan satu hari.
"Pada tanggal 30 November 2008 banyak pengusaha SPBU yang tidak mau menebus premiun untuk tanggal 1 Desember karena tidak mau rugi. Padahal kalau BBM naik Pertamina tetap drop BBM. Jadi spirit-nya yang harus dijaga supaya share dalam situasi krisis saat ini," keluhnya dalam acara seminar 'Economics Outlook 2009' yang diadakan BUMN Club, di Jakarta, Kamis (4/12).
Sofyan menjelaskan keuntungan SPBU per liternya Rp 180. Jadi dengan Rp 500 per liter dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter, dikurangi Rp 180 menjadi Rp 320. Pertamina menanggung subsidi 50% dari Rp 320 sebagai bentuk sharing Pertamina supaya stok premium tetap ada pada tanggal 1 Desember 2008.
"Jadi untuk kebutuhan premium 54 ribu kilo liter dalam sehari sebanyak 50% terpaksa disubsidi oleh Pertamina karena pengusaha SPBU tidak mau membeli," tegasnya.
Selain Meneg BUMN yang kecewa dengan ulah pengusaha SPBU, Menteri ESDM juga meminta Pertamina mencabut ijin SPBU tersebut. "Sebab karena mereka, pada tanggal 1 Desember lalu terjadi kelangkaan premium," tandasnya. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !