Minggu, 27 Mei 2012 | 04:43 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pilih-pilih Saham Sektor Ritel
Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Asteria
web - Kamis, 4 Desember 2008 | 14:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Perlambatan ekonomi, turunnya harga komoditas serta depresiasi rupiah, tak urung membawa sentimen negatif pada kinerja industri defensif ritel domestik, seperti RALS, MAPI dan MPPA. Bagaimana peluang sahamnya?
Analis Samuel Sekuritas Ike Rahmawati mengatakan, memburuknya kondisi perekonomian dunia akibat krisis finansial dan turunnya harga minyak dunia telah memukul hampir semua sektor, termasuk ritel.
Tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK) akan melemahkan daya beli masyarakat. "Akan ada rem pembelanjaan masyarakat untuk mengantisipasi memburuknya kondisi ekonomi dan kehati-hatian dalam membelanjakan pengeluarannya," papar Ike, di Jakarta, kemarin.
Karenanya penurunan daya beli ini akan mempengaruhi sektor ritel yang memang mengandalkan belanja konsumen. Menurut Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan sektor ritel di 2009 hanya tumbuh 10-15% dibandingkan tahun ini sekitar 20%. Kondisi ini juga mempengaruhi ekspansi usaha peritel sebagai dampak kondisi ekonomi makro.
Menurut Ike, saat ini sektor retail Indonesia ditransaksikan pada rata-rata price to earning (P/E) 2009 sebesar 9,9 kali dan price to book value (PBV) 2009 sebesar 0,7 kali. Melihat outlook yang negatif, Ike pun men-downgrade sektor retail, yaitu PT Ramayana Lestari (RALS) dan PT Mitra Adiperkasa (MAPI) menjadi netral.
Pada perdagangan Kamis (04/12) siang, saham RALS berada di level Rp 470 per lembarnya, stagnan dari perdagangan akhir bulan lalu. Demikian pula saham MAPI stabil di level Rp 410 sejak awal pekan ini.
Ike menuturkan, selama ini RALS menerapkan strategi ekspansi ke luar Jawa dengan memanfaatkan tingginya daya beli masyarakat di kawasan itu seiring peningkatan harga komoditas seperti batubara dan minyak kelapa sawit (CPO). "Namun, pelemahan harga komoditi saat ini menurunkan daya beli dan berimbas pada kinerja RALS," ujarnya.
Outlook RALS, terutama yang fokus pada ekspansinya di luar Jawa dan membidik segmen kelas menengah ke bawah, juga dinilai masih kurang baik. Hal ini terkait meluasnya PHK serta kelesuan ekonomi global.
Saat ini RALS ditransaksikan pada P/E 2009 sebesar 9,2 kali. "Kami menurunkan rekomendasi menjadi hold dari sebelumnya beli dengan target harga Rp 650 per saham," tambahnya.
Kondisi neraca RALS sebenarnya masih cukup sehat. Pada kuartal ketiga 2008, posisi net cash perseroan mencapai Rp 1,033 triliun, yaitu 31% dari total kapitalisasi pasar saat ini yang sebesar Rp 3,320 triliun.
RALS memiliki neraca yang paling sehat dibandingkan MAPI dengan utang bersih Rp 949 miliar dan PT Matahari Putra Prima (MPPA) dengan net debt Rp 405 miliar. Hingga akhir 2008 pun, RALS dinilai masih mampu menunjukkan kinerja sesuai target, didukung tingginya penjualan di bulan Puasa dan Lebaran.
Sedangkan, untuk mengantisipasi perlambatan pertumbuhan kinerja RALS, Ike merevisi turun penjualan 2009-2010 sebesar 5-10% dari proyeksi awal dan menurunkan asumsi pertumbuhan gerai 2009-2010 menjadi 433,180 meter persegi dan 428,855 m2. Selain itu juga menaikkan asumsi inflasi 2009 menjadi 7,5% (dari 7%).
MAPI juga mengalami hal sama. Meskipun target market MAPI masyarakat menengah ke atas yang relatif tidak terlalu sensitif terhadap inflasi, kelesuan ekonomi dan masalah likuiditas menyebabkan kelas ini cenderung melakukan saving daripada spending.
"Kecenderungan ini akan meningkat sebagai antisipasi perlambatan ekonomi global hingga kondisi ekonomi membaik," tuturnya. Pada kuartal tiga 2008, total biaya operasi MAPI naik 30% year on year (yoy) menjadi Rp 1,1 triliun.
Gross margin dan operating margin turun menjadi 37,2% dan 5% (dari 37,7% dan 6%). Tekanan pada biaya operasional disebabkan ekspansi MAPI baru-baru ini, seperti pembukaan Harvey Nichols.
Selain itu juga biaya promosi guna mendongkrak penjualan. "Kami melihat adanya inefisiensi yang kemungkinan masih akan berlanjut ke depan," katanya.
Sementara depresiasi rupiah menyebabkan besarnya potensi pembukuan forex loss. Hingga September 2008, pinjaman MAPI dalam bentuk dolar AS mencapai US$ 31,2 juta dan yen mencapai 6,6 miliar terbagi dalam tranche A dan B.
Dengan mempertimbangkan outlook retail yang kurang kondusif dan pertumbuhan yang stagnan, Ike masih mempertahankan rekomendasinya untuk MAPI. "Karena harga pasar telah mencerminkan nilai wajarnya, kami sarankan hold saham MAPI di level Rp 440 per saham," imbuhnya.
Sementara itu, Ike merekomendasikan investor untuk melepas saham MPPA. Hal ini melihat estimasi earning per share (EPS) MPPA pada 2009 mencapai Rp 54, dengan PE 2009 sebesar 11,4 kali dan PBV 2009 sebesar 0,3 kali.
"Saya rekomendasikan jual untuk MPPA, target harga saat ini adalah Rp540 per lembarnya," katanya. Siang ini, saham MPPA terpantau diperdagangkan stagnan di level Rp 620 per unitnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.