INILAH.COM, Jakarta - Undang-undang Pilpres yang mensyaratkan pencapresan 20% kursi dan 25% suara hanya akan memunculkan dua calon kuat. Hal itu membuat mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung berharap partainya mengusung capres alternatif.
Hal itu diungkapkannya, mengingat partai berlambang pohon beringin itu berpotensi meraih suara 15%. Sebab, UU Pilpres hanya akan memunculkan dua kandidat terkuat, yakni Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri.
"Dalam negara demokrasi, sangat penting harus mendapat pemimpin alternatif. Karena persyaratan UU Pilpres yang tinggi, maka kesempatan calon alternatif masih kecil," kata Akbar sebelum menjadi pemateri dalam acara Mentoring Leadership ke-IX, di Ary Suta Center, Jakarta, Kamis (4/12).
Dipaparkanya, Megawati jelas diusung PDIP yang diprediksi mendapat suara signifikan. Sedangkan SBY dengan Partai Demokrat popularitasnya semakin naik dan kemungkinan akan didukung banyak partai.
"Oleh sebab itu, SBY dan Mega, kandidat terkuat. Sedangkan Golkar yang ratingnya turun tapi tetap akan mendapat 15%. Tentu masih punya peluang besar," ujar mantan ketua DPR ini.
Golkar di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla, menurutnya, berpeluang besar mengusung calon alternatif. Sehingga, ia meminta partai yang pernah dipimpinnya itu untuk segera menentukan sikap.
"Golkar akan mengumumkan capres yang diusung usai pemilu legislatif April, sedangkan pilpres Juli. Otomatis sisa waktu dua setengah bulan. Waktu tersebut sangat mepet dalam mencari pemimpin," ujar mantan pendiri KNPI ini. [nuz]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !