INILAH.COM, Jakarta - Bila bagi sebagian kalangan membenci dan mencibir keluarga Cendana, tidak berlaku bagi PKS. Setelah menggandeng Titik Soeharto, kini giliran putri sulung penguasa Orde Baru, Siti Hardiyanti alias Mbak Tutut 'dipepet'. Tutut masuk menjadi nominator perempuan berjasa bagi bangsa.
Tutut adalah satu dari sederet nama beken yang masuk dalam list 'pahlawan' wanita. Sebut saja Menteri Keuangan Sri Mulyani, sineas Mira Lesmana, aktris Neno Warisman, Bunda Ifet, Tuty Alawiyah, sineas Nia Dinata, aktris Dian Sastro, akademisi Ani Soetjipto, Dewi Motik, dan jurnalis Maria Hartiningsih. Para putri tokoh proklamator yakni Megawati Soekarnoputri dan Meutia Hatta juga masuk dalam jajaran tokoh wanita berjasa ini.
Sama seperti iklan pahlawan yang memuat wajah Soeharto, masuknya Tutut juga langsung menuai kritik dan tanda tanya. PKS benar-benar merapat ke keluarga Cendana?
"Kita setuju-setuju saja dibilang seperti itu. Jika ada yang mengkritik itu tandanya cinta," kata Humas PKS Ahmad Mabruri, dalam perbincangan dengan INILAH.COM di Jakarta.
Masuknya Tutut dalam barisan calon penerima penghargaan, menurut Mabruri, bukan hasil setting internal PKS. Adalah keinginan masyarakat yang dijadikan alasan PKS memasukkan Tutut dalam daftar.
"Masyarakat dapat mengusung calonnya dengan mengirimkan SMS. Dan terkumpul 600 atau 700 SMS, dan sekitar 50-an nama," beber Mabruri.
PKS sendiri tidak ambil pusing dengan kontroversi nama Tutut. Pastinya, 8 dari 50 nama perempuan terpilih akan diumumkan pada 18 Desember mendatang. "Masyarakat yang menentukan semuanya," tegas Mabruri.
Langkah PKS ini, dinilai mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung dapat bisa 'mencuri' suara pemilih Golkar pada Pemilu 2009. Meski demikian, Akbar belum bisa menduga berapa suara Golkar yang dapat digondol.
"Ya bisa saja ada suara Golkar yang tertarik untuk memberikan dukungan kepada PKS," kata Akbar.
Di mata Akbar, Tutut adalah salah satu tokoh perempuan yang memiliki kepedulian tinggi. "Secara umum, kalau kita lihat memang Mbak Tutut adalah tokoh perempuan yang memberikan perhatian besar dan kepedulian. Terutama dalam soal-soal krusial," cetus mantan Ketua DPR ini.
Namun bagi aktivis buruh wanita, Dita Indah Sari, PKS hanya melanjutkan blunder politik semata dengan menjagokan Tutut. "Nggak jelas kriterianya apa?. Apa prestasi Tutut itu. Nggak layak dia dapat itu," kata Dita kepada INILAH.COM.
Dita mengakui Tutut sempat menorehkan prestasi. Tetapi, tinta emas itu didapatkan atas sokongan ayahnya, mendiang Soeharto
"Kalau nggak ditopang oleh bapaknya bagaimana. Sekarang tanpa bapaknya, bisa," tanya Dita.
Karena itu, Dita berpendapat PKS memang sudah menjadi Partai Golkar baru. Sebab, tujuan memasukkan Tutut tidak lain untuk menarik simpati loyalis Soeharto.
"Jika caranya seperti itu ditertawakan oleh orang-orang Golkar sendiri. Golkar saja tidak memahlawankan Soeharto. PKS kok mau. Padahal PKS partai lahir setelah reformasi. PKS tidak pro reformasi berarti," pungkasnya.
Peneliti LIPI M Nurhasim berpendapat manuver politik PKS terkait Cendana hanya ingin menarik konstituen luar. "PKS mencoba mengambil hati pendukung Soeharto yang masih cinta," katanya.
Akan tetapi, dirinya menilai hal tersebut sulit untuk dilakukan. Alasannya, ideologi PKS masih berbasis aktivis Islam. Apalagi survei menunjukkan warga muslim banyak yang memilih partai sekuler.
"Di dalam tubuh PKS tidak akan goyah, tetapi ada benih benih kekecewaan dari aktivisnya tabun 1998 yang masih aktif," ujar Hasim.[L4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !