INILAH.COM, Jakarta Setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin ke level 9,25%, saham-saham perbankan kembali bergairah. Hal ini terkait kinerja yang diperkirakan akan meningkat. Namun waspadai aksi profit taking.
Pada perdagangan Jumat (05/12) sesi siang, saham sejumlah bank sempat menguat namun kembali melempem terimbas aksi ambil untung. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sempat naik 50 poin ke level Rp 3.500 namun kemudian melorot ke Rp 3.400 per lembar.
Demikian pula saham PT Bank Mandiri (BMRI) setelah sempat naik 70 poin ke level Rp 1.670 dan beringsut ke posisi Rp 1.649, masih menguat dibandingkan kemarin Rp 1.600. PT Bank Negara Indonesia (BBNI) setelah sempat naik Rp 20 kemudian kembali lagi ke kisaran perdagangan sehari sebelumnya di Rp 500 per lembarnya.
Sementara saham PT Bank Central Asia (BBCA) siang ini terpantau masih stagnan setelah kemarin menguat sebesar 2,8% ke level Rp 2.750. Demikian pula saham PT Bank Danamon (BDMN) juga mulai susut ke level Rp 2.625 per lembar dibanding sehari sebelumnya di posisi Rp 2.725.
Penurunan harga saham perbankan ini dipicu aksi profit taking setelah selama dua hari mengalami penguatan. Namun analis masih mengatakan, saham perbankan masih positif terimbas penurunan BI rate yang diyakini mendongkrak kinerja perbankan terutama untuk meningkatkan ekspansi kreditnya yang akhir-akhir ini tersendat.
Selain itu dapat melonggarkan likuiditas perbankan yang sebelumnya ketat. Sentimen positif lain pun datang dari aksi Bank Sentral Inggris (BoE) dan Bank Sentral Eropa (ECB) yang semalam memotong suku bunga acuan mereka secara drastis. Hal ini tentunya akan membuat outlook kinerja perbankan membaik.
Kepala Riset Sarijaya sekuritas Danny Eugene mengatakan, investor kembali memburu saham perbankan karena keputusan BI menurunkan BI rate. Salah satu saham yang disarankan adalah BBRI.
Menurutnya, bank pelat merah yang menyasar pasar kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ini memiliki margin bunga cukup besar dan jaringan yang sangat luas.
Selain menjajal kredit korporasi, BBRI tetap menjadi pemimpin di kredit UMKM "Saya rekomendasikan beli untuk BBRI, dengan target harga hingga akhir tahun di level Rp 6.100 per lembarnya," katanya.
Sementara analis PT Reliance Securities Gina Novrina Nasution mengatakan, secara teknikal saham BBRI berpotensi menguat. Dengan titik support BBRI di Rp 3.150 dan level resistance di Rp 3.550, ia pun memberikan rekomendasi positif. "Investor bisa beli saham BBRI dengan stoploss harian di Rp 3.125 per lembarnya," ujarnya.
Saham perbankan lain yang menurutnya masih berpotensi menguat adalah BBNI. Emiten BUMN ini menurutnya layak dikoleksi dengan titik support Rp 470 dan level resistance di Rp 540. "Saya rekomendasikan beli dengan stoploss harian di level Rp 465," katanya.
Analis Finan Corpindo Nusa Edwin Sebayang menyarankan agar investor mengkoleksi saham BBCA. Menurutnya, saham BBCA masih merupakan saham paling defensif di antara saham bank lainnya, terlihat dari likuiditas perseroan.
Rasio kredit macet (NPL) masih terjaga di bawah 0,6% dan LDR (loan to deposit ratio) BBCA paling kecil. Per September 2008, LDR BBCA tercatat 54,65%, sementara BBRI 86,35%, BBNI 73,20%, Mandiri 62,07%, bahkan Bank Danamon mencapai 90,73%. "Akumulasi saham BBCA dengan target harga di level Rp 3.200 per lembar," katanya.
Perseroan saat ini juga sedang kebanjiran nasabah terutama dengan dana murah. Sedangkan aksi BBCA yang akan mengakuisisi 100% saham Bank UIB senilai Rp 242 miliar, dapat meningkatkan bisnisnya di sektor syariah.
Saham lain yang mendapat rekomendasi Edwin adalah saham BMRI. Menurutnya, saham bank beraset terbesar di Tanah Air ini mempunyai likuiditas positif dengan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 16,7%. "Investor bisa beli BMRI dengan target harga hingga akhir tahun di level Rp 2.700 per lembarnya," jelasnya.
Pada kuartal tiga 2008, saham BMRI berhasil membukukan laba bersih Rp 3,956 triliun atau naik 24,4%, persentase kenaikan laba bersih tertinggi di antara bank lainnya. Kenaikan ditopang pendapatan bunga bersih yang naik 13,7% mencapai Rp 11,009 triliun dan fee based income yang naik 20,5% menjadi Rp 3,123 triliun.
Pada sembilan bulan pertama 2008, penyaluran kredit perseroan mencapai Rp 162,8 triliun atau naik 33,7%. Ekspansi kredit diimbangi dengan NPL gross turun menjadi 4,4% dari 12,2%. Sementara itu secara net NPL juga turun dari 3,3% menjadi 0,56%.
Rekomendasi positif juga diberikan Didi Kurniawan, analis dari PT Dinar Securities. Menurutnya, aksi korporasi BMRI, seperti akuisisi 51% saham PT Tunas Financindo Sarana dapat meningkatkan performa perseroan terutama dalam pembiayaan kendaraan bermotor. Demikian pula rencana akuisisi perusahaan asuransi umum dapat meningkatkan bisnis BMRI di bidang kredit. "Saya rekomendasikan beli BMRI. Investor sudah bisa masuk sekarang," katanya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !