INILAH.COM, Jakarta Akhirnya capres-capres alternatif di luar SBY dan Megawati, muncul lebih transparan dan akuntabel. Sebuah terobosan mencari figur pemimpin bangsa alternatif. Harapannya, masyarakat punya referensi yang cukup untuk memilih pemimpinnya.
Melalui Dewan Integritas Bangsa (DIB), sedikitnya enam politisi menyatakan kesediaan mereka untuk mengikuti konvensi calon presiden alternatif yang diselenggarakan di 12 kota.
Menurut rencana konvensi akan diadakan pada 19 Januari hingga 7 Maret 2009 di Yogyakarta, Padang, Surabaya, Denpasar, Medan, Banjarmasin, Makassar, Gorontalo, Ambon, Jayapura, Bandung dan Jakarta.
Perlombaan politik menuju pemilihan presiden diprediksi akan berjalan seru dan sengit, karena bagi para sosok senior, pada 2009 adalah The Last Game dalam perebutan jabatan presiden. Pertanyaannya, bangsa kita membutuhkan presiden ataukah mencari pemimpin nasional yang kompeten, tangguh dan visioner?
Jawabannya adalah pemimpin sekaligus presiden yang kompeten, tangguh dan visioner. Maka tak salah jika DIB menjaring capres alternatif agar rakyat memiliki opsi lebih banyak lagi.
Ketua DIB Salahuddin Wahid (Gus Sholah), menyebutkan para capres alternatif itu adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X, Dr Rizal Ramli, Dr Yuddi Chrisnandi, Dr Marwah Daud Ibrahim, Bambang Sulastomo, dan Fadel Muhammad. Sementara Wiranto, Fadjroel Rahman, dan Ryamizard Ryacudu, yang juga diundang DIB, masih ragu-ragu.
Di antara enam tokoh yang sudah menyatakan kesediaannya mengikuti konvensi calon presiden alternatif itu, Fadel Muhammad adalah satu-satunya yang belum mendeklarasikan diri sebagai capres.
DIB dideklarasikan oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia, Pusat Pemuda Katolik, Generasi Muda Buddhis Indonesia, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Generasi Muda Khonghucu, dan Komunitas Anti Korupsi.
Mengenai partai-partai yang mendukung konvensi itu, Gus Sholah mengatakan, antara lain Partai Buruh, Partai Nasional Benteng Kerakyatan (PNBK), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI).
Konvensi capres versi DIB mengusung enam kandidat capres cukup ternama di negeri ini. Apalagi Indonesia sekarang sangat butuh pemimpin yang sesuai kebutuhan rakyat.
Bagaimanapun proses konvensi yang dilakukan DIB adalah suatu terobosan demokrasi yang tepat dilakukan saat ini untuk mencari calon pemimpin bangsa. Figur yang ada saat ini, terbukti tak mampu menyelesaikan persoalan rakyat secara efektif.
Harapannya, masyarakat bisa terus mengikuti konvensi DIB, sehingga memiliki referensi yang cukup dalam menentukan pilihan secara obyektif.
Konvensi DIB sebagai suatu gerakan inisiatif, sah-sah saja dilakukan dalam kerangka membangun demokrasi di Indonesia. Sebagai sebuah wacana mencari capres terbaik, gerakan inisiatif DIB perlu didukung dan dipahami sebagai langkah masyarakat madani dalam mengupayakan perbaikan kualitas demokrasi. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !