Minggu, 27 Mei 2012 | 02:29 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Dua Sisi Singapura
Headline
Oleh: Karim Raslan
web - Senin, 19 Juli 2010 | 09:18 WIB
SINGAPURA adalah negara kecil sarat penduduk. Dengan populasi mencapai 4,9 juta jiwa (dan tahun 2020 diperkirakan akan melejit hingga 6,5 juta), negara ini menjadi sangat penuh sesak.
Di saat sama, kian membaiknya kondisi ekonomi menyebabkan peningkatan secara dramatis pada harga-harga properti, arus masuk wisatawan dan laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
Pertumbuhan sangat cepat (diperkirakan mencapai 13-15%) ini mengakibatkan kesenjangan pendapatan, serta menimbulkan tekanan pada sumber daya sangat terbatas.
Meskipun banyak orang menganggap Singapura negara kaya, terdapat perbedaan mencolok antara kaum empunya, sementara warga miskin hanya tinggal di kawasan hunian yang disubsidi pemerintah. Ini terasa lebih memprihatinkan lagi mengingat bahwa pihak yang menikmati kemakmuran Singapura bukanlah rakyat Singapura.
Awal minggu ini, saya berkunjung ke sana untuk melihat dua keadaan yang bertolak belakang ini, serta dampak buruk lain yang disebabkan sangat cepatnya laju pertumbuhan di Singapura. Jelas, para pemimpin politik dan regulator sedang memusatkan perhatian pada pembangunan seiring makin dekatnya pemilu pada pertengahan 2011.
Kehadiran kasino Marina Bay Sands (MBS) yang baru dibuka berdampak besar bagi Singapura. Ini menunjukkan tekad Singapura terus mengembangkan negaranya, menghadapi tren global yang terus berubah.
Ketika dalam perjalanan menuju kompleks kasino ini, saya bertanya pada supir taksi apakah dia sudah pernah mengunjungi MBS. Dia menggelengkan kepala, Ini kan cuma untuk orang-orang high class.
Kasino ini cukup memukau. Saya bukan penggemar judi, namun ampitheaternya terlihat sangat luas dan begitu mewah. Lantai utamanya dipenuhi meja-meja permainan baccarat dan black jack, mesin slot jackpot, serta permainan lainnya yang tak terhitung banyaknya.
Karena waktu itu saya mengunjunginya pada Senin malam, hanya sepertiga dari kasino saja yang terlihat penuh. Kebanyakan pengunjungnya etnis-China dari berbagai negara. Pintu masuk kasino benar-benar diawasi ketat, sehingga tidak banyak orang lokal yang masuk, kecuali mereka bersedia membayar biaya masuk SGD($)200.
Di lantai atas, saya melewati pintu-pintu ke ruang judi pribadi yang dijaga ketat, juga sejumlah restoran mewah yang memamerkan hidangan-hidangan jet set mereka, seperti abalone, foie gras, sampanye, kaviar, dll.
Namun, keesokan paginya, saya mendapati sisi Singapura yang sama sekali berbeda. Alicia Neo, teman saya (seorang seniman muda), mengantar saya melihat-lihat lingkungan tempat tinggalnya, Queenstown, sebuah area kelas pekerja, tetapi terawat baik. Daerah ini terletak di barat CBD.
Alecia bangga menjadi warga Singapura, tapi dia sangat menyadari berbagai permasalahan terselubung yang sedang dihadapi banyak orang di sana yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Orang-orang di sini umumnya tidak punya banyak uang. Biaya berobat sangat tinggi dan harga properti begitu mahal. Sulit sekali kalau sampai ada keadaan darurat. ujarnya.
Ayah saya memiliki toko kelontong kecil. Banyak lansia mencari pekerjaan paruh waktu, akan tetapi para pendatang (terutama dari China daratan) selalu bersedia dibayar lebih rendah untuk melakukan pekerjaan lebih banyak.
Jelas banyak warga kalangan pekerja kasar di Singapura yang menghabiskan masa tua mereka hanya dengan bermodalkan dana pensiun, yang akan habis dengan cepat.
Ini merupakan tantangan serius bagi pembuat kebijakan publik. Berbagai pembangunan yang dilakukan Singapura malah semakin melebarkan jurang sosial-ekonomi bagi rakyatnya.
Kepemilikan properti adalah tantangan lainnya. Contohnya, saat ini harga apartemen eksekutif di Singapura $840.000, jauh lebih tinggi bila dibandingkan harga satu unit flat dengan dua kamar yang ditawarkan pemerintah seharga $255.000.
Tentu saja, warga non-Singapura yang kaya tidak terlalu ambil pusing dengan harga tinggi seperti itu. Ini membuahkan situasi di mana orang asing bersaing mendapatkan sumber daya pada setiap tingkatan sosial-ekonomi.
Namun tetap saja, warga Singapura dari kelas mana saja masih lebih baik dibandingkan tetangga mereka, Malaysia atau Indonesia. Namun dalam situasi seperti ini, permasalahan yang harus dihadapi adalah masalah kemiskinan (kesenjangan pendapatan), terutama dalam peninjauan kinerja Peoples Action Party (PAP) dalam pemerintahan.
Menariknya, karena khawatir akan efek bumerang yang mungkin terjadi, pemerintah Singapura kini menjadi lebih sulit dan ketat dalam memberikan Permanent Residency.
Apa yang saya lihat di Queenstown menunjukkan bahwa ada kelemahan struktural yang jelas dalam model ekonomi Singapura. Sebuah cara yang tepat tentu akan memudahkan PAP membenahi ketidakseimbangan ini. Namun demikian, pemilu yang semakin dekat membuat tugas ini harus semakin cepat dikerjakan. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Prasetyo
Selasa, 27 Juli 2010 | 08:19 WIB
Mas Karim, Mana cerita2 yang lain. Tak tunggu, ya. Pras di Bantul
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.