INILAH.COM, Jakarta Marahnya elite PKS terhadap kritikan terhadapnya, malah memunculkan kritik lanjutan. Mereka diminta tak hanya memburu kehidupan borjuis, melainkan lebih meneruskan cita-cita tokoh Islam sebelumnya.
Para elite PKS, demikian sejumlah pengamat, jangan memperalat ummat untuk kepentingan sesaat. PKS harus dewasa dan tidak boleh marah atas otokritik oleh para kader mudanya seperti Umar Hamdani.
"Harus dipahami, para elite PKS seperti Anis Matta, Fachri Hamzah dan lainnya yang kini bergelimang uang dan harta, justru diuntungkan oleh keikhlasan ummat dan para kader yang berjuang mensukseskan PKS pada Pemilu 1999 dan 2004. Mereka dituntut amanah dan ikhlas memberdayakan ribuan kader di bawah," tegas Muhamad Muntasir, alumnus Fisipol UGM dan mantan aktivis Haraqah Tarbiyah PKS di kampusnya.
Dosen UIN Jakarta dan pengamat politik Burhanuddin Muhtadi MA menyatakan PKS harus dewasa dan siap menerima kritik paling pedas sekalipun. Ia menyampikan hal itu setelah melihat begitu besar reaksi atas pernyataan elite PKS terhadap Umar Hamdani, aktivis PKS di tingkat akar rumput. Umar adalah alumnus UIN Jakarta dan Direktur Lingkar Studi Islam dan Kultur (LSIK) Ciputat.
Umar sebagai Direktur Lingkar Kajian Islam dan Kultur (LSIK) juga dikenal sebagai kader yang militan di kalangan bawah PKS. Sejak 1999, Umar berkeliling dari rumah ke rumah, masjid ke masjid, untuk melakukan kaderisasi. Semua yang dilakukan oleh Umar itu penuh dengan keikhlasan tanpa meminta apapun.
Dari tahun 1999, ia beriuran dalam gerakan Rp. 1.000 bersama kader-kader di wilayahnya (Ciputat) untuk disumbangkan kepada PKS. Harapannya, tentu anggota-anggota PKS yang telah menjadi pejabat publik menyadari apa yang telah diterima oleh mereka harus dianggap sebagai sebuah amanah.
"Saya adalah kader PKS bersama Agus Purnomo dan Haryo Setyoko yang kini sudah menjadi bagian dari elite PKS. Ustad Surahman Hidayat (Dewan Syuro dan capres PKS) juga tahu saya. Apakah mereka masih ingat kepada para ikhwan di Haraqah Tarbiyah UGM? Setahu saya, tidak," ujar Muntasir.
Menurut Muntasir, pihaknya berharap elite PKS mau membangun kebersamaan, emansipasi, dan empati bagi para kader di tingkat bawah. Dalam kaitan itu, dia membenarkan pernyataan yang pernah dilontarkan Umar Hamdani. Sebab, jika elite PKS berkhianat, demikian mantan pemimpin redaksi majalah Darul Islam dan kini aktivis LSM, partai tersebut bakal tenggelam oleh sejarah.
Muntasir yang menulis menulis sejumlah buku, menegaskan elite PKS yang kaya-raya dan borjuis itu harus meneruskan cita-cita Tjokroaminoto, Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, Muhamad Natsir, Mohamad Roem dan para pahlawan Islam. Para figur hebat itu bernilai sosial dan menyalurkan hartanya ke para kadernya sebagai langkah pemberdayaan yang nyata.
"Para elite PKS jangan berwatak the winners take all. Kalau begitu apa bedanya mereka dengan para kapitalis di Amerika?" tegas Muntasir.
Maka, wajarlah jika kader akar rumput seperti Umar melakukan otokritik terhadap kepemimpinan PKS yang dinilai saat ini seperti kacang lupa pada kulitnya. Petinggi-petinggi PKS yang sudah duduk di pemerintahan ataupun di legislatif harus mempedulikan kalangan bawah PKS yang juga turut membangun partai berlambang dua bulan sabit mengapit setangkai padi menjadi partai yang cukup besar saat ini.
"Saya akan membela Umar Hamdani habis-habisan jika sampai ia dipecat dari PKS hanya karena berani mengkritik para elite PKS yang bergelimang uang dan harta. Semua orang tahu Anis Matta, Fachri Hamzah dan lainnya dulu. Apakah mereka peduli, bersih dan profesional? Tunjukkan dada mereka. Kami siap dialog, kalau perlu di kampus Universitas Paramadina," kata Muntasir, mantan aktivis Islam di UGM yang istrinya aktif di PKS Bekasi Timur. [Bersambung/I4]