INILAH.COM, Jakarta Menghadapi kritik dan otokritik kanan-kiri, tak ada cara lain bagi PKS kecuali bersikap ruhamma dan berjiwa besar. Jika tidak, partai politik itu bisa saja kehilangan kepercayaan. PKS mesti mengenyahkan elite hipokrit dan munafik.
Ibarat pohon, makin tinggi PKS, makin keraslah angin menerjang dan mengguncang. Jika PKS tak berwatak ruhamma dan berjiwa besar, di masa depan PKS bisa tergerus atau bahkan tumbang.
"Jika para elite PKS tak amanah, maka akan kehilangan kepercayaan. Dan itu berarti kehilangan segalanya," tegas Muhamad Muntasir, mantan Pemred Majalah Darul Islam yang juga kader Haraqah Tarbiyah PKS di UGM Yogyakarta.
PKS, katanya, sudah mulai dipenuhi elite hipokrit dan munafik dengan berpura-pura alim dan sahaja. Padahal, banyak pula yang memburu dan bergelimang harta.
"Jika elite PKS sudah berubah oleh uang, dan hanya memperalat ummat dan menjual ayat Al-Quran, serta tak ada lagi semangat kebersamaan dan ruhamma (saling mencintai), tunggulah pembalasan dari ummat Islam," tegas Muntasir, aktivis LSM.
Pengamat politik Noorhaidi Hasan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyatakan agar bisa bertahan dan solid, PKS harus belajar dan mengambil hikmah kegagalan partai-partai Islam lain. Banyak elite parpol Islam dirundung manipulasi dan korupsi. Tercipta jurang kaya miskin antara elite dan massanya yang mendukung terjadinya konflik dan perpecahan.
"Jurang pemisah antara elite dan kader di bawah akan menimbulkan alienasi ummat Islam. Itu berbahaya bagi masa depan PKS," kata Burhanuddin Muhtadi MA, dosen UIN Syarif Hidayatulah Ciputat dan peneliti politik Charta Politika, Jakarta.
Pada aras ini, Noorhaidi menyatakan PKS harusnya bergerak untuk jangka panjang. Mereka harus bisa solid serta tak dirundung perpecahan seperti umumnya partai-partai Islam.
Jika PKS tidak meniru tabiat buruk yang dilakukan partai-partai Islam lainnya, masa depan partai PKS bisa bertahan lama. Bahaya yang mengancam PKS, katanya, adalah jika sebagian elite dan kadernya tak puas, iri hati, dan saling berebut harta dan kekuasaan sehingga menuai konflik dan perpecahan.
"Hal itu mestinya jangan terjadi karena berarti akan mengulang kesalahan parpol Islam lain," ujar Noorhaidi, doktor lulusan Universitas Utrecht Belanda yang disertasinya tahun lalu diterbitkan Cornell University, AS.
Di Indonesia, ungkapnya, berbagai partai Islam seperti PPP, PBB, dan PKB, dirundung konflik kepentingan dan keretakan sehingga sulit mencapai puncak kekuasaan. Bahkan, mungkin rontok di tengah jalan. [Habis/I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !