INILAH.COM, Jakarta - Dalam penyelenggaaan Festival Batik Nusantara hari kedua, hadir Batik Apik yang mengagungkan sebuah kekayaan tradisional menjadi sebuah karya fenomenal. Itulah yang digambarkan oleh para desainer dalam memperkenalkan karya terbaru menjelang awal 2009.
Batik yang dipadukan dengan olahan kain sarung menjadi begitu menarik dan mengagumkan. Lenny Agustin dan Stephanus Hamy.
Anda jangan heran jika melihat sebuah karya Lenny yang mengusung keemasan batik mega mendung Cirebonan dengan sarung dari Banjarmasin yang terkenal begitu halus.
Selain itu permainan warna yang berani juga ditunjukkan oleh Lenny yang memadukan karya batik dan sarung dalam warna cerah dan meriah. Sedangkan untuk modelnya, tentu saja tampil seksi dan berani.
Lenny bisa saja mematok target pasarnya adalah anak muda yang mungkin sudah lupa dengan batik tradisional. Setipe Lenny, desainer Stephanus Hamy juga memperkenalkan khasanah budaya Indonesia dengan batik modern dan sarung yang tampil seksi dan berani. Kebanyakan eksekutif muda dan kaum sosialita menjadi ukuran pasaran yang dianggap memenuhi kriteria untuk mengenakan busana karyanya. Dia dengan berani memadukan busana yang tidak lazim menjadi karya menarik dan memikat para pecinta mode.
Pada kesempatan itu pula Ghea Panggabean tampil dengan warna burgundy. Dia memihak pada busana malam yang anggun dan penuh glamoran. Ghea seperti biasa selalu mengagungkan perempuan untuk bisa tampil elegan dan menawan.
Baginya perempuan seperti berlian memiliki berbagai dimensi yang bila setiap dimensi dibentuk sempurna akan membentuk spektrum dan menciptakan sinar yang sangat luar biasa indahnya.
Spektrum dengan sinar yang sempurna itu menggambarkan keseimbangan perempuan masa kini yang dituntut untuk menjadi multifungsi, baik dalam bekeluarga, bersosialisasi ataupun dalam berkarya.
Hal-hal itu harus seimbang dan saling melengkapi. Karena itu, Ghea juga banyak memainkan warna-warna seimbang sehingga sesuai tema dari pergelaran ini yakni DEquilibrium.
Sedangkan desainer Barli Asmara memperlihatkan lipitan pada setiap busananya. Dia tidak peduli apakah untuk blus atau rok semuanya serba berlipit dan mengambil batik klasik sehingga tampil modern dan cantik. Kemudian Musa Widyamodjo menampilkan keindahan perempuan dalam busana batik pesisir. Hanya saja Musa tidak lagi banyak bermain model kebaya, tapi lebih pada permainan batik yang menyeimbangkan tiap garis dalam bentuk skarya memikat dan seksi.
Batik di mata Musa adalah sebuah kain yang enak dipandang dalam balutan busana perempuan sehingga kelihatan semakin elegan bagi yang mengenakannya.
Hari ini Festival Batik Nusantara akan menghadirkan desainer Era Soekamto, Carmanita, Denny Wirawan, dan Ari Saputra. Pergelaran itu sekaligus mengakhiri perhelatan tahunan dari anggota Ikatan Perancang Muda Indonesia ini. [L1]