Kamis, 17 Mei 2012 | 09:53 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Megawati Kurang Islami?
Headline
Megawati Soekarnoputri - inilah.com/Pandie
Oleh:
web - Minggu, 14 Desember 2008 | 00:23 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Sebagai pemimpin partai nasionalis, penampilan Megawati Soekarnoputri pantas saja jauh dari kesan Islami. Dalam setiap penampilannya, ia memang tak pernah mengenakan busana Muslim, kecuali pada acara keagamaan Islam.

Padahal, jika saja ia lekat dengan busana Muslim, maka akan lebih memudahkan PDIP meraih suara lebih banyak dalam Pemilu 2009. Apalagi dengan munculnya wacana koalisi partai nasionalis-Islam.


Bahkan mantan Ketua MPR Amien Rais juga angkat bicara soal itu. Modal sebagai pemimpin partai oposisi yang selalu mengkritik kebijakan pemerintah dinilai masih kurang cukup bagi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mendongkrak suaranya di Pilpres 2009.

"Dari segi penampilan fisik, jika saja Mbak Mega mau mengenakan busana muslimah, saya jamin akan banyak dampak politiknya. Katakanlah bisa membantu meningkatkan peraihan suara dalam pemilu legislatif dan pilpres 2009," usul Amien.

Ucapan mantan ketua MPR itu menjadi kalimat pembukanya di dalam buku Mereka Bicara Mega seperti dikutip INILAH.COM, Sabtu (13/12). Di halaman 17 sampai halaman 21, Amien memberikan testimoni dan saran-saran dalam tulisan berjudul 'Mumpung Masih Ada Waktu'.

Namun, Amien buru-buru mengingatkan, hal-hal yang hanya bersifat simbolik seperti itu (berbusana muslimah) tidak akan menggeser hal-hal yang bersifat substansial, bila tidak diikuti sikap, tindakan, dan kegiatan keagamaan yang signifikan. Bisa jadi, lanjut Amien, tipsnya itu malah kontraproduktif bagi Mega.

Busana muslimah, menjadi titik masuk bagi Amien untuk mengkritik PDIP secara keseluruhan. Amien melihat, PDIP masih mengulangi kesalahan yang sama dalam menjalankan kebijakan partai. Misalnya, menyusun daftar caleg secara tidak proporsional jika ditinjau dari representasi keagamaan.

Kritikan itu tidak dimaksudkan Amien untuk menajamkan perbedaan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Tetap itu merupakan sesuatu yang secara sosiologis harus diperhatikan.

Amien melanjutkan, aspek keterwakilan merupakan faktor yang sangat penting dalam menghadapi Pemilu 2009. "Saya ini paham betul soal Jawa Tengah. Saya lahir dan dibesarkan di Solo. Tidak bisa dibantah, keberadaan PDIP di wilayah tersebut paling dominan. Tetapi saya sering mendengar dari teman-teman PDIP sendiri bahwa kelompok muslim makin lama makin tidak kerasan, karena merasa terpinggirkan. Itu adalah contoh soal keterwakilan yang saya maksud. Sungguh, itu sangat riil," paparnya.

Perolehan suara yang menurun drastis dari Pemilu 1999 ke Pemilu 2004 menurut Amien juga disebabkan golongan arus bawah PDIP mulai sadar, aspirasi mereka tidak terwakili.

Soal pemilih muslim ini, Amien berkata, "Ini masalah ketidakadilan saja, karena pendukung PDIP, kendati abangan, tetaplah muslim. Pemilih PDIP sebagian besar kaum muslimin, namun mereka tidak terwadahi secara proporsional."

Dengan begitu banyaknya parpol yang akan bersaing dalam Pemilu 2009, yang pasti akan sulit bagi parpol besar untuk meraih suara mayoritas. Untuk itu, koalisi menjadi keharusan parpol besar untuk mengamankan kursi di legislatif maupun kursi RI-1.

Koalisi tak hanya terbuka antara parpol berideologi nasionalis, tapi juga nasionalis-Islam. Untuk itu, saran Amien mungkin harus dipertimbangkan oleh kubu Megawati.[tra]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.