INILAH.COM, Jakarta Poros Tengah jilid II menjadi wacana luas di kalangan partai politik. Padahal, baru akhir pekan lalu gagasan ini diluncurkan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin. Ada yang mencurigai poros ini sebagai kendaraan politik sesaat.
Beragam tanggapan muncul atas wacana yang mengingatkan publik akan kepiawaian M Amien Rais saat Pemilu 1999 lalu dalam menggalang poros tengah. Saat itu, Amien muncul sebagai king maker di ranah politik, menjegal Megawati Soekarnoputri, mengusung KH Abdurrahman Wahid di kursi RI-1. Amien pula yang kemudian menggusur Gus Dur.
Gagasan Amien dan Din memiliki perbedaan mendasar. Setidaknya, kepentingan Amien kala itu hanya untuk menjegal Megawati. Lain dengan poros tengah ala Din. Sebutan koalisi strategis lebih dominan dan menghindari politik 'asal bukan'.
"Koalisi ini bukan untuk menjegal Megawati atau SBY. Bisa saja koalisi ini mendukung SBY atau Mega atau siapapun yang menjadi kesepakatan koalisi," kata Din kepada INILAH.COM, akhir pekan lalu.
Pernyataan Din cukup jelas. Namun, itu tak membuat gagasan poros tengah mendapat kecurigaan dari berbagai kalangan. Ketua Dewan Syura DPP PKB KH Abdurrahman Wahid yang menyebut poros tengah ada karena tokoh seperti Hasyim Muzadi, Din Syamsudin, dan Hidayat Nur Wahid berkeinginan menjadi wapres dalam Pilpres 2009 mendatang.
Sementara, Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menilai, gagasan poros tengah akan sulit terbentuk dalam Pemilu 2009 mendatang. Menurut dia, ini terkait dengan pola pengajuan capres 2009 mendatang tidak ditentukan oleh kelas partai, baik besar atau menengah.
"Model koalisi poros partai menengah tidak mudah terbentuk. Apalagi kalau ingin menjiplak sejarah poros tengah pada Pilpres 1999 yang dilakukan oleh MPR, lebih tidak mudah lagi," tegasnya kepada INILAH.COM, Minggu (14/12) di Jakarta.
Terkait dengan pilpres 2009 mendatang, mantan Ketua Umum PB HMI tersebut menegaskan koalisi pilpres baru akan terwujud setelah pemilu legislatif, pada Mei 2009. "Koalisi akan berdasarkan siapa capres/wapresnya. Bisa saja partai menengah bergabung dengan partai besar," tegasnya.
Sementara analis politik dari Charta Politika Burhanudin Muhtadi menilai, gagasan Din akan memperuncing faksionalisasi Islam versus nasionalis. Bahkan Burhan menganggap, gagasan Din tidak cukup produktif dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. "Karena makin menguatkan politik aliran," tegasnya, Senin (15/12) di Jakarta.
Bagaimana prospek koalisi ini dalam Pemilu 2009? Mantan Ketua BEM IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut memprediksi koalisi ini tak akan prospektif dalam pemilu mendatang. "Karena tidak ada partai politik Islam yang diominan," tegasnya.
Sementara Din menegaskan, sejak menggelindingnya wacana poros tengah, terjadi distorsi wacana yang berkembang di publik. Menurut dia, poin penting gagasan tersebut adalah koalisi strategis di antara partai-partai Islam dan berbasis massa Islam dalam menghadapai persoalan kebangsaan. "Jadi koalisi ini tidak hanya mengurusi pilpres semata," sergahnya dalam pesan singkatnya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, keberadaan koalisi strategis ini merupakan realisasi ukhuwah Islamiyah dan silaturahmi dalam kehidupan politik. Ia juga membantah, jika koalisi ini semakin memperuncing dikotomi partai islamis dan nasionalis.
"Koalisi ini justru ingin mencarikan dikotomi politik nasionalis versus Islam," tegasnya. Menurut dia, jika poros umat merupakan komunikasi orang per orang, sedangkan koalisi strategis adalah komunikasi antar partai politik.
Bagaimana dengan partai politik Islam yang menolak bergabung di koalisi poros tengah ini? Guru besar politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menyebutkan, bahwa hanya partai politik yang tidak mau mengamalkan ajaran ukhuwah dan silaturahim yang tak mau bergabung. "Mereka tidak mau mengamalkan ajaran ukhuwah dan silaturahim," tegasnya.
Jika koalisi strategis atau poros tengah ini solid, jelas keberadaannya akan membuat keder partai politik papan atas, tak terkecuali SBY atau Megawati. Meski, pijakan koalisi ini harus berorientasi jangka panjang, bukan orientasi jangka pendek yang pragmatis. [I4]