INILAH.COM, Jakarta Bundel ponsel murah sudah biasa dilakukan operator, tapi tidak untuk handset mahal semacam smartphone. Padahal bundel smartphone seperti itu, terbukti bisa meningkatkan penjualan dan menambah jumlah pelanggan selular.
Country Manager HTC Indonesia Agus Sugiharto mengatakan, agak sulit memasarkan ponsel pintar atau smartphone bekerja sama dengan operator telekomunikasi. "Operator di Indonesia adalah penyedia jasa telekomunikasi, bukan penyedia handset. Untuk mengubah itu sulit," katanya, di Jakarta, Senin (15/12).
Di luar negeri, ponsel pintar, rata-rata dipasarkan operator. Seperti produk smartphone iPhone 3G dipasarkan secara eksklusif oleh operator AT&T. Smartphone yang sangat laris ini, dibanderol US$ 199,99. Tapi untuk mendapatkan penawaran itu, konsumen diwajibkan mengikat kontrak dua tahun, menggunakan layanan AT&T.
AT&T harus mengeluarkan lebih dari US$ 300 per unit agar harga iPhone 3G bisa lebih terjangkau konsumen. Tapi dari hasil kerjasama dengan Apple itu, AT&T meraup peningkatan laba 15,8%. Perusahaan telekomunikasi terbesar di AS itu memperoleh pendapatan bersih US$3,77 miliar, setelah bekerjasama dengan Apple .
Agus Sugiharto mengatakan, masih agak sulit agar smartphone bisa dipasarkan lewat operator telekomunikasi. Operator harus memikirkan sumber daya manusia, jika memasarkan produk handset. Selain itu operator juga tidak mau dipusingkan dengan distribusi produk. "Operator fokusnya pada VAS (value added service)," imbuhnya.
Agus mengatakan investasi operator akan lebih banyak di pembangunan jaringan, dan kemungkinan tidak akan memberikan subsidi pada handset. Padahal, subsidi seperti itu, terbukti sebagai salah satu cara yang bisa mendongkrak pendapatan.
Ke depan, penjualan handset termasuk smartphone akan lebih banyak didistribusikan lewat jalur tradisional. Apalagi Indonesia bersifat open market, sehingga berbagai merek handset bebas masuk.
General Manager Sales dan Marketing LG Electronics Indonesia Andre Tan mengatakan fitur-fitur canggih yang ada di smartphone sepenuhnya bisa didukung oleh operator Indonesia. Tapi untuk memasarkan smartphone kerjasama dengan operator, masih sulit diterapkan.
LG pernah mencoba bekerja sama dengan operator lewat pemberian subsidi agar konsumen bisa menyicilnya. Namun di lapangan usaha ini banyak menemui kendala.
"Masalahnya Indonesia belum memiliki sistem ID (kependudukan) yang berlaku secara ketat. Banyak konsumen yang mengambil ponsel bundling ternyata keberadaannya tidak jelas, karena alamatnya tidak diketemukan," tandaskata Andre.
Untuk ponsel pintar atau smartphone, Andre mengatakan, konsumen lebih banyak membeli secara cash di jalur tradisional. Selain memasarkan smartphone lewat penjual skala besar dan kecil, pemasaran juga dilakukan bersamaan dengan produk TI. Sementara kredit smartphone, lebih banyak dilakukan oleh perbankan menggunakan kartu kredit.
Salah satu operator yang pernah memasarkan ponsel kelas atas dengan sistem subsidi adalah Mobile-8. Samsung SCH X619 yang harga pasarnya Rp 3,75 juta dijual Rp 688 ribu. Untuk mendapatkan penawaran itu, konsumen cukup berlangganan dengan salah satu operator dan minimum pemakaian Rp 388 ribu setiap bulan, selama 2 tahun.
Sementara untuk ponsel lebih murah, seri SCH N 356 yang harganya Rp 1,1 jutaan dijual hanya Rp 388 ribu plus pulsa Rp 38 ribu. Untuk langkah itu, Mobile-8 harus memberikan subsidi sampai 70%. Tapi Mobile-8 berhasil meningkatkan pendapatan dan jumlah pelanggan. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !