PAK Mufid Wahyudi adalah pria sangat sibuk. Pengusaha asal Surabaya ini mengawali minggunya terbang ke Jakarta beberapa hari, lalu bertolak ke Bali, sebelum pulang ke Surabaya menghabiskan akhir pekan di rumah bersama istri dan keempat anaknya.
Tiap pekan jadwalnya memang selalu sepadat ini. Tapi, dengan dua bisnis yang ia jalankan biro periklanan dan waralaba kafe berskala nasional dengan 22 toko cabang tampaknya ia tidak memiliki pilihan untuk tetap berpergian.
Pak Mufid adalah sosok pebisnis yang sangat optimistis. Ia juga menjadi cerminan pebisnis muda.
Seperti halnya para pria dinamis lainnya, dia punya beberapa aturan dasar yang dipegang teguh. "Prinsip utama saya adalah tidak ada yang lebih penting dari teman. Kita harus selalu siap membantu teman-teman kita."
Di saat sama, kita juga harus bisa bekerja sama. Kadang-kadang, tentu saja kalau kita bekerja dalam industri yang sama, kita harus berkompetisi, tapi ada waktu di mana kita harus bersatu, terutama kalau kita harus berurusan dengan pemilik tempat usaha atau pemerintah setempat.
Namun, tuntutan pekerjaan tetap ada.
Jadwal rapat saya sangat padat di siang hari. Saya juga harus mengerjakan beberapa tugas dan memikirkan konsep dan strategi pemasaran sebelum shalat Subuh.
Pak Mufid yang kini berusia 38 memulai langkah pertama sebagai wirausaha ketika masih duduk di bangku SMA.
Semuanya berawal dari ayah saya. Beliau seorang profesor di bidang Hukum Islam. Dahulu beliau suka menantang saya: Kamu mau jadi pegawai atau bekerja untuk diri sendiri?
Saya memilih untuk mempunyai usaha sendiri. Saya mulai dengan menjadi fotografer acara pernikahan. Pada masa itu harga kamera dan roll film sangat mahal. Saya harus sangat berhati-hati dengan biaya dan pengeluaran.
Setelah itu, saya dibayar untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah seni rupa. Mahasiswi kebanyakan tidak suka mengerjakan tugas menggambar perspektif. Jadi mereka membayar saya untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut.
Saya bahkan mengerjakan kartu nama untuk perusahaan-perusahaan besar di Bondowoso, yang letaknya lima jam dari Surabaya. Saya baru berusia 16, tapi saya nekad saja.
Sejak dulu saya sudah tahu kalau saya ingin bekerja di periklanan. Jadi itu yang saya ambil saat kuliah di Australia. Saya juga sempat menghabiskan beberapa pekerjaan magang untuk beberapa biro periklanan di Jakarta. Tanpa pengalaman itu, dan juga relasi yang saya dapatkan selama bekerja, saya tidak mungkin bisa mengembangkan bisnis.
Setelah lulus, saya berniat bekerja di Jakarta, tapi saya harus pulang ke Surabaya karena urusan keluarga. Saya tidak pernah menyesali itu, karena Surabaya adalah tempat yang baik untuk membesarkan anak. Dan jelas lebih murah daripada di Ibukota!
Waralaba kafe yang ia miliki bernama Black Canyon, waralaba dari Thailand. Gerai tersebar di seluruh Indonesia, dari ujung Sulawesi hingga Batam dan Sumatera Utara. Secara tidak langsung Pak Mufid mengisyaratkan bahwa daya beli di kota-kota seperti Manado dan Makassar sangat besar.
Sementara itu, biro periklannya banyak mengerjakan proyek untuk klien-klien Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Pak Mufid selalu cermat mengamati tren yang sedang terjadi dan mencari ide baru. Bulan lalu, ia berada di Bangkok untuk menerima penghargaan dari PM Thailand, Abhisti Vejjajiva, atas keberhasilannya mempromosikan Thailand.
Ketika saya memasuki cabang kafenya di Sutos sebuah mal di bagian barat Surabaya yang mengingatkan kita akan Cilandak Town Square (Citos) di Jakarta Selatan saya merasa agak ganjil karena disapa oleh seorang karyawan dengan sawadeekaap (sapaan bagi warga Thailand).
Ketika kami baru buka cabang pertama kali, empat setengah tahun yang lalu, kami tahu kami harus memulainya dari luar Jakarta. Dan lagi, siapalah kami? Bukan siapa-siapa. Karena itulah kami memulai dengan Bali. Orang-orang dari Jakarta sering pergi ke Bali dan saya ingin mereka mengenal dulu brand kami saat mereka liburan.
Perlahan-lahan, kami mengembangkan sayap ke Surabaya, Makassar, Bandung dan Semarang, sebelum akhirnya ke Jakarta. Sekarang kami punya tujuh outlet di Jakarta. Tapi sejujurnya, Surabaya masih menjadi pasar yang paling sulit. Mereka selalu minta diskon!
Kami juga punya saingan yang kuat, jadi cara kami memposisikan diri juga harus benar. Kami menawarkan suasana nyaman dan makanan yang lezat. Bagi orang Indonesia, nasi itu penting. Kita seperti belum makan kalau belum makan nasi
Energi Pak Mufid ini seperti menular dan membuat orang-orang di dekatnya ikut bersemangat. Saya bertanya apa pendapatnya tentang orang yang mengatakan kalau orang pribumi itu bukan pebisnis yang baik. Ia mengakui kalau kebanyakan temannya memilih menjadi pegawai.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
Orang keturunan China itu lain. Mereka lebih fokus dan sejak kecil sudah diajarkan untuk menjadi wiraswastawan. Kulturnya sangat berbeda. Meskipun demikian, kita tetap harus membuktikan bahwa kita mampu kan? [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !