inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Parpol Islam: Subur Atau Terkubur?

Headline
inilah.com/Iqbal
Oleh: Ahluwalia
Selasa, 16 Desember 2008 | 14:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta Partai-partai politik Islam, termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menghadapi ujian berat pada Pemilu 2009. Pilihannya hanya dua: makin subur atau justru terkubur. Yang jelas, sulit bagi mereka mengais suara dari kalangan nasionalis.
Banyak hal yang membuat posisi parpol Islam jadi dilematis. Kecuali identikalitas politik, suara yang mereka perebutkan juga itu-itu saja. Artinya, jika ada satu parpol Islam yang melejit, hampir bisa dipastikan ada pula yang jeblok.
Menurut Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI), Dodi Ambardi, parpol Islam sulit berkembang karena hanya mengandalkan politik identitas. Mereka hanya menjual politik keummatan.
Berdasarkan hasil survei, parpol Islam yang memperhatikan kepentingan rakyat melalui program kerja yang konkrit, tidaklah banyak. Selain itu, pemilih parpol Islam mengalami stagnasi. Hal ini berbeda dengan parpol berbasis nasionalis yang terus mendapat dukungan.
"Kalaupun ada perolehan suara salah satu parpol Islam naik, itu justru berasal dari parpol Islam lainnya. Sangat sulit bagi parpol Islam menggerus suara dari parpol nasionalis," kata Dodi.
Karena itu, pihaknya menyarankan parpol Islam tak mengedepankan simbol tapi nilai-nilai keislaman. Nilai-nilai keislaman tersebut harus diaplikasikan dalam realitas praktis. Maknanya jelas, parpol Islam dituntut untuk memiliki program kerja yang konkrit dan bermanfaat bagi kemaslahatan ummat, termasuk dari kalangan nasionalis.
Dari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpian Syaiful Mujani pada bulan lalu, tak satupun parpol Islam yang berada di peringkat tiga besar. Tingkat elektabilitas tertinggi diduduki Partai Demokrat dengan 16,8%, disusul Partai Golkar (15,9%), da PDI Perjuangan (14,2%). PKS hanya berada di posisi keempat dengan elektabilitas yang menurun, hanya 4,9%.
Banyak yang mencibir hasil survei LSI itu, terutama pada begitu tingginya elektabilitas Partai Demokrat. Tapi, setidaknya, hasil jajak pendapat itu bisa jadi cerminan dan renungan bagi parpol Islam untuk memperbaiki diri.
Kemerosotan PKS itu, parpol Islam yang pada Pemilu 2004 lalu meraih suara terbanyak ketiga, kabarnya disebabkan inkosistensi elite PKS sendiri. Mereka dianggap tak sepenuhnya mampu mewujudkan semboyan bersih, peduli, dan profesional.
Jika PKS amanah dan peduli ummat di bawah, kehadiran PKS akan menjadi oase bagi ummat yang selama ini diperalat partai sekuler maupun partai Islam demi meraih kursi di legislatif dan eksekutif.
Sebagai partai Islam, PKS disebut-sebut sedang menghadapi ancaman dan pembusukan dari dalam dirinya sendiri. Pasalnya, sejumlah elite PKS dari kubu pragmatis pimpinan Anis Matta, hidup kian mewah dan menjauh dari amanah, menjauhi basis massa mereka di tingkat bawah. "Elite PKS sudah ogah dan enggan turun ke bawah karena akan ketahuan kedoknya," kata Moh Shofan MA, peneliti Islam politik alumnus pasca sarjana UMM.



Menurutnya, elite PKS lebih suka berceramah di hotel megah atau bersukaria di mal mewah sebagai habitus baru kelas menengah, jauh di atas kehidupa umatnya. "Ini justru bukti pengkhianatan para intelektual PKS yang mengklaim bersih, perduli dan profesional," kata Al Chaidar, pengamat politik.
Tapi, tudingan itu dibantah keras Wakil Sekjen PKS, Fahri Hamzah. "Soal fitnah itu, kita serahkan kepada Allah. Kami hanya berusaha melakukan yang terbaik bagi masyarakat dengan komitmen bersih, peduli, dan profesional. Sekarang suara PKS baru 7,3%. Kami berharap bisa berbuat lebih banyak di masa depan," katanya. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.