inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Saham Perbankan, 'Why Not'?

Headline
inilah.com/Bayu Suta
Oleh: Asteria
Selasa, 16 Desember 2008 | 15:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Kendati krisis finansial masih membayang, beberapa stimulus yang dikeluarkan berbagai negara mampu menggairahkan sektor perbankan. Alhasil, para analis pun merekomendasikan saham sektor ini terutama BBRI, BBCA dan BMRI.
Analis PT BNI Securities Asti Pohan mengatakan, saham sektor perbankan masih menjanjikan. Menurutnya, meskipun krisis finansial telah memporakporandakan sektor finansial di beberapa negara, namun penurunan perbankan Indonesia masih lebih moderat dibandingkan negara lain.
"Saya pikir kinerja perbankan pada semester kedua ini diperkirakan akan membaik," katanya, di Jakarta, hari ini. Ia merekomendasikan investor untuk membeli saham perbankan, terutama yang memiliki loan to deposit ratio (LDR) maksimal serta dominasi segmen kredit pada sektor korporasi meski diperkirakan membukukan pendapatan bersih yang lebih kecil.
Hal senada diungkapkan analis PT Reliance Securities Andrew Sihar Siahaan. Menurutnya, saat ini stabilitas perbankan domestik dalam kondisi yang cukup baik. Pemerintah juga kembali menurunkan harga solar selain premium.
Sentimen positif dari turunnya harga BBM juga membuat ekspektasi inflasi dan suku bunga menurun. "Outlook kinerja perbankan pun akan meningkat," tuturnya. Selain itu, adanya tren pemangkasan suku bunga bank sentral berbagai negara, juga memacu penguatan sektor perbankan.
Investor berekspektasi bank sentral AS, The Fed akan menurunkan suku bunganya paling tidak 50 basis poin menjadi 0,5% pada pertemuan Federal Open Market Committe (FOMC) Selasa (16/12) waktu setempat. "Fed sendiri juga menyatakan akan melakukan kebijakan stimulus lain non suku bunga dalam waktu dekat," imbuhnya.
Dengan turunnya suku bunga bank sentral termasuk BI, perbankan dapat melempar kreditnya ke sektor riil. Hal ini memberi imbas positif pada margin bunga bank. Ia pun merekomendasikan saham PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).
Menurutnya, kedua saham ini masih menjanjkan terkait kinerjanya yang positif. Pada perdagangan Selasa (16/12) sesi siang, saham BBCA berada di level Rp 3.050, atau turun Rp 100 dari penutupan kemarin. Sedangkan saham BBRI terpantau naik Rp 75 ke level Rp 3.450 per lembarnya.
Menurut Andrew, saham BBCA meskipun menunjukkan pelemahan, masih menarik terkait mulai longgarnya likuiditas sehingga memungkinkan ekspansi. "Saya rekomendasikan beli BBCA dengan target harga Rp 3.250 per lembarnya," tandasnya.
Sementara saham BBRI memiliki prospek menarik karena jangkauan nasabah hingga pelosok. BBRI berkomitmen untuk meningkatkan alokasi kredit usaha rakyat (KUR) menjadi Rp 14 triliun, jauh lebih tinggi dari tahun ini sebesar Rp 8,6 triliun (71,5% dari total KUR).
Jumlah nasabah BBRI juga ditargetkan naik dua kali lipat dari 2008 yang sebanyak 1,5 juta debitor. Pengucuran KUR BRI itu terdiri atas Rp 5,75 triliun ke sektor mikro dan Rp 2,85 triliun ke sektor ritel, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 0,91%. "Saham BBRI bisa dibeli dengan target harga Rp 4.350 per unitnya," imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Gina Novrina Nasution, analis PT Reliance Securities. Menurutnya, saham BBRI masih menarik terkait fundamental perseroan yang bagus. Ia pun mengatakan bahwa titik support BBRI pertama di Rp 3.800 dan kedua Rp 3.525. Sedangkan level resistance pertama di Rp 4.250 dan kedua Rp 4.550. "Beli BBRI dengan stoploss harian Rp 3.775 per lembarnya," imbuhnya.
Smenetara analis Finan Corfindo Nusa Edwin Sebayang merekomendasikan saham PT Bank Mandiri (BMRI) karena kinerjanya yang positif, terutama NPL perseroan yang berada di bawah level 1%. "Saya masih merekomendasikan beli BMRI di level Rp 2.450," jelasnya.
Siang ini, saham BMRI terpantau turun 60 poin ke level Rp 2.100. Turunnya saham BMRI terdorong aksi profit taking akibat faktor teknikal setelah penguatan saham sehari sebelumnya.
Menurut Edwin, BMRI cukup agresif mengembangkan bisnis secara non organik. Setelah mengambilalih Bank Sinar Harapan Bali, BMRI juga telah mengakuisisi PT Tunas Finance.
BMRI juga menargetkan membeli satu bank lagi tahun depan serta tengah memproses akuisisi salah satu perusahaan asuransi umum ditargetkan rampung awal tahun depan..
Hal ini merupakan bagian dari agenda mewujudkan BMRI sebagai penguasa 30% pasar industri keuangan domestik pada 2010. Hingga kini BMRI baru memegang 14% pasar dari sisi pengumpulan dana, dan 12% jika dihitung dari penyaluran kredit. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.