INILAH.COM, Jakarta Susilo Bambang Yudhoyono dan M Jusuf Kalla tampaknya bakal berduet kembali pada Pemilu Presiden 2009. Kans mereka pun cukup besar. Tapi, jika tak waspada, bola liar bisa saja mengganjal Kalla. Ironisnya, bola itu bisa berasal dari internal Partai Golkar.
Tanda-tanda SBY dan JK bakal berduet kembali, memang kian terlihat. Sejauh ini, Partai Golkar pun belum menentukan sikap soal siapa calon presiden yang akan mereka dukung tahun depan. Sebaliknya, Partai Demokrat, partai yang mengusung SBY, juga membuka opsi bagi tokoh yang akan digandeng calon incumbent tersebut.
Hampir semua pengamat politik menyarankan agar SBY dan JK menjadi pasangan capres/wapres untuk Pemilu 2009. Kedua sosok pemimpin nasional itu dinilai berhasil mengatasi krisis ekonomi global di Tanah Air. Keduanya berpeluang cukup besar.
Meskipun demikian, ada kendala dari dalam Golkar, terutama kemungkinan munculnya bola liar. Pasalnya, penurunan suara Partai Golkar yang merupakan pemenang Pemilu 2004, bisa mengancam proses pencalonan Kalla yang juga Ketua Umum Partai Golkar itu sebagai calon presiden atau calon wakil presiden.
Potensi bola liar itu diingatkan Akbar Tanjung, mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar. Menurut Akbar, dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar, Oktober lalu, muncul nama-nama calon presiden di luar skenario. Sebelumnya DPP Partai Golkar telah mengumpulkan dewan pimpinan daerah.
Namun, dalam rapat pleno ada juga daerah yang tetap memunculkan nama dan diikuti daerah lain sehingga muncul 14 nama sebelum terkonsolidasi jadi tujuh nama. Akbar, mantan Ketua DPR, menyebutkan beberapa tokoh Golkar di dalam struktur partai yang bisa mengancam Kalla untuk menduduki jabatan wakil presiden. Salah satunya, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono.
"Tapi, yang paling mungkin, Surya Paloh. Dia lebih kuat," ujar Akbar. Surya adalah Ketua Dewa Penasihat Partai Golkar. Akbar menilai, Surya Paloh memiliki keberanian.
Dengan demikian, sebagai calon wapres, bisa saja Kalla diganggu dan dijegal politikus lain dari dalam Golkar jika perolehan suara Golkar dalam pemilu 2009 menurun. Potensi penjegalan dari dalam itulah yang tersingkap dari pernyataan Akbar Tanjung di atas.
Sejauh ini, memang tak ada jaminan Partai Golkar akan kembali jadi peraih suara terbanyak pada Pemilu 2009. Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan Syaiful Mujani per November 2008, misalnya, menyebut elektabilitas Partai Golkar berada di urutan kedua dengan 15,9%. Beringin diapit Partai Demokrat (16,8%) dan PDIP (14,2%). Ini merupakan isyarat bahwa kemungkinan perolehan suara Golkar menurun.
Karena itu, Kalla harus mengkonsolidasikan jajaran Golkar agar tidak muncul bola liar yang merusak soliditas di dalam Partai Beringin itu.
Para akademisi ilmu politik sering mengingatkan bahwa tidak ada kawan abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan. Jika Kalla mencermati prinsip politik ini, maka dia harus waspada dan mawas diri agar bola liar tidak mencuat dari dalam Golkar.
Direktur Lembaga Survei Nasional, Umar S Bakry mengingatkan bahwa jika perolehan suara Golkar menurun pada Pemilu 2009, sangat mungkin Kalla disudutkan oleh kekuatan bola liar dalam Golkar. Maksud mereka jelas, mengganjal pencalonanannya sebagai cawapres untuk SBY. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !