INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antar bank Jakarta, Selasa (16/12) sore naik 25 basis poin menjadi Rp 11.000/11.100 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya Rp 11.025/11.150.
Ini karena Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan kedua mata uang itu.
"BI akan masuk ke pasar melakukan intervensi apabila ada momemtum yang tepat untuk masuk guna memicu rupiah agar tidak mendekati angka Rp 12.000 per dolar AS," kata Direktur Financorpind Nusa, Edwin Sinaga, di Jakarta, Selasa (16/12).
Ia mengatakan, BI telah mengetahui siklus kebutuhan valuta asing seperti pembayaran utang luar negeri sehingga pihaknya bisa mengantisipasi agar rupiah tetap terkendali.
"Dengan diketahui siklus kebiasaan para pihak yang membutuhkan valas, maka BI diperkirakan akan mempersiapkan kebutuhan itu dengan cepat," katanya.
Ditanya tentang kemerosotan rupiah belakangan ini, menurut dia, terutama akibat imbas dari permasalahan keuangan global.
"Ada beberapa currency (mata uang) di regional hampir di semua currency di regional mengalami depresiasi. Jadi bukan hanya rupiah sendiri yang tertekan," ujarnya.
Menurutnya, BI saat ini terus mencermati rupiah dan selalu siap berada di pasar.
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk memperkuat rupiah sebaiknya dilakukan pemupukan cadangan devisa terutama dari neraca berjalan yaitu dari ekspor dikurangi impor.
Untuk itu sebaiknya pemerintah mulai memperbaiki kinerja ekspor dan mereposisi impor sehingga komposisi impor menjadi rendah.
Ia menambahkan, penguatan rupiah saat-saat sekarang ini dan mendatang juga didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga AS oleh Bank sentral AS (The Fed). Selain itu, menurut dia, gejolak nilai tukar rupiah semakin mereda karena unsur spekulatif sendiri. [*/cms]