Membaca pemberitaan Lia Eden yang bikin ulah lagi di inilah.com akhir-akhir ini, saya ketawa jika mengamati berbagai intrik yang telah dilakukannya.
Setelah kelompoknya 'terkubur' untuk beberapa waktu lamanya, kini mereka membuat manuver yang sangat cerdik untuk memancing di air keruh guna mengekspos ke publik bahwa kelompok mereka masih 'eksis', syukur-syukur jika keinginan terselubungnya bahwa 'dakwah' kelompoknya dapat dilindungi oleh pemerintah dapat diwujudkan.
Lihat saja ulah mereka yang membagikan selebaran provokatif yang berisi seruan untuk membubarkan semua agama, jelas-jelas ini hanya merupakan intrik murahan dengan membuat gerakan kontroversial yang pasti target akhirnya adalah memancing kemarahan publik, sehingga 'harapan' mereka agar seolah-olah kelompoknya menjadi 'kaum yang terzolimi' dapat terwujud.
Mereka sangat jeli melihat fenomena Ahmadiyah yang semula sudah dinyatakan terlarang, namun karena 'sedikit ketidaksabaran' beberapa ormas tertentu, akhirnya semenjak insiden Monas, justru Ahmadiyah semakin didukung oleh kelompok pluralis seperti JIL dkk.
Belajar dari fenomena tersebut, kelompok Lia Eden nampaknya juga ingin berbuat serupa dengan memancing kemarahan Ormas aliran keras sehingga masyarakat Indonesia akan menilai bahwa kelompok Lia Eden telah dizolimi.
Nampaknya trik menjadi pihak yang terzolimi ini masih cukup efektif untuk dipakai kelompok tertentu dalam mewujudkan obsesinya. Banyak contoh pihak yang terzolimi, pada akhirnya bisa tampil mewujudkan keinginannya, sebut saja Megawati yang pernah 'dizolimi' Orde Baru akhirnya dia dan PDIP berhasil memenangkan pemilu tahun 1999, SBY-JK yang katanya juga dizolimi oleh Presiden Megawati hingga keluar dari kabinetnya, pada akhirnya bisa memenangkan Pilpres 2004.
Jadi, dengan hipotesa bahwa manuver yang dilakukan oleh Lia Eden dkk memang sengaja dibuat dalam rangka memancing kemarahan publik agar kelompoknya bisa 'diusik' oleh Ormas tertentu dengan target akhirnya adalah adanya stempel dari masyarakat bahwa 'kelompok Lia Eden adalah kelompok yang lemah dan keberadaannya harus dilindungi', akan segera terwujud, maka dapat dikatakan bahwa Lia Eden adalah seorang politisi ulung yang sangat cerdik melihat peluang, terlebih lagi saat ini Presiden SBY sedang sibuk menjaga citra dirinya demi kemenangan di 2009.
Institusi Polri juga coba dibenturkan dengan Ormas aliran keras yang merupakan ancaman nyata bagi kelompok Lia Eden. Berbekal kemampuan politik yang cukup baik itu, sebaiknya Lia Eden membentuk parpol untuk ikut Pemilu 2014, karena dari statement-statementnya nampak sekali bahwa Lia Eden dan 'Tuhannya sangat menguasai celah hukum di Indonesia.
Mungkin 'Tuhan' Lia Eden adalah alumni fakultas hukum yang hafal KUHP dan pengamat politik yang tahu kapan harus menembak dan kapan harus tiarap.
Jadi sebagai orang waras, kita jangan sampai terpancing dengan manuver Lia Eden dkk, karena ketidaksabaran kita hanya akan membantu mewujudkan cita-cita kelompok mereka. Biarkan mereka tertelan bumi dengan segala dosa-dosanya. Kita tidak perlu ikutan 'edan' seperti Lia Eden.
Yudhy Bhagaskara, bhagaskara@yahoo.com