inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Lia Eden Cuma Settingan?

Headline
Lia Eden - inilah.com/Subekti
Oleh: Vina Nurul Iklima
Rabu, 17 Desember 2008 | 00:15 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Kasus penistaan agama yang dilakukan oleh kelompok Lia Aminuddin alias Lia Eden, dianggap sebagai pengalihan isu menjelang pemilu 2009 mendatang. Ada indikasi bahwa fenomena ini muncul kembali buah hasil permainan orang-orang yang mendalangi kasus penodaan agama oleh Lia Eden dan kelompoknya.

"Saya kira tidak menutup kemungkinan bahwa ada yang bermain di belakangnya. Tetapi apa yang diinginkan dengan permainan itu? Ini suatu hal yang perlu kita cermati," kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Yusron Ihza Mahendra selepas acara Penobatan 15 Pemimpin Muda di Ritz Charlton Jakarta, Selasa (16/12).

Menurutnya, ada beberapa faktor pemicu munculnya fenomena tersebut. Selain ada kaitannya dengan pemilu 2009, lanjut Yusron, faktor pendorongnya antara lain adalah krisi global. Sehingga ada kemungkinan permainan orang-orang di balik kasus Lia Eden.

"Mungkin bulan Februari tahun depan kita kan menghadapi situasi yang sulit. Jadi tidak menutup kemungkinan, ini ada orang yang mengeruhkan suasana dari suatu keuntungan," terang dia.

Namun, siapa dalang di balik kasus ini, ia tidak menjawab. yang jelas, ia melanjutkan, kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Lia eden dan pengikutnya merupakan bentuk pemikiran yang tidak waras. Untuk itu, perlu ada perhatian khusus dari semua pihak karena kasus ini tidak mungkin mucul kembali begitu saja.

"Kita sebagai negara hukum segalanya harus ada pembuktian. Jadi langkah aparat untuk menertibkan dan menahan mereka sudah merupakan langkah yang tepat," ujar Yusron.

Ia juga mengimbau agar ada upaya penyelesaian yang jelas mengenai Lia Eden dan pengikutnya sehingga tidak meresahkan masyarakat. Selain penahanan, perlu ada penyuluhan secara persuasif kepada kelompok tersebut agar ada perbaikan etika beragama dalam kehidupan masyarakat.

"Manusia harus punya panduan hidup. Kalau bicara masyarakat kita perlukan etika dan kapital tuntutan yang lebih tinggi dari kehidupan yaitu agama," pungkas dia. [ikl/ana]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.