INILAH.COM, Jakarta - Saham properti kini mendapat giliran untuk dicermati. Harga saham yang masih di bawah Net Asset Value per share (NAVS) sektor properti, mengindikasikan potensi penguatan lebih lanjut. Analis Reza Nugraha dari Bhakti Securities masih mengandalkan saham properti. Menurutnya, emiten di sektor ini masih berpeluang menguat, didukung sentimen suku bunga yang kompetitif. Apalagi harganya belum merefleksikan faktor kenaikan penjualan, ujarnya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (28/7).
Penjualan properti setahun terakhir menunjukkan peningkatan karena suku bunga yang stabil dan maraknya kredit dari perbankan. Namun membaiknya kinerja ini dinilai belum terefleksi pada pergerakan saham properti. Meski ada kenaikan, harga saham properti masih berada di bawah NAVS, hingga justru terkesan
lagging, ucapnya.
Di tengah kondisi ini, beberapa saham properti masih menjanjikan penguatan lebih lanjut. Seperti PT Summarecon Agung (SMRA), PT Bumi Serpong Damai (BSDE) dan PT Alam Sutera Realty (ASRI).
Trading buy untuk saham-saham ini, imbuhnya.
Senada dengan analis Robin Setiawan yang mengatakan, suku bunga acuan perbankan (BI Rate) yang stabil diyakini mampu mendorong turunnya suku bunga kredit kepemilikan rumah (KPR).
Hal ini akan memicu peningkatan penjualan menyusul naiknya daya beli pasar. Beberapa saham yang direkomendasikan adalah PT Summarecon Agung (SMRA) dan PT Bukit Darmo (BKDP). Kedua emiten ini masih berpeluang naik, tuturnya.
Tidak jauh berbeda dengan Alfiansyah, analis Sinarmas Securities. Menurutnya, sektor properti sangat prospektif dalam enam bulan ke depan, sebab suku bunga acuan masih terkendali. Hal itu diperkuat dengan kondisi pertumbuhan RI yang lebih baik. Dari sisi makro ekonomi mendukung peluang penguatan di saham sektor properti, imbuhnya.
Ia menilai, suku bunga BI rate hingga akhir tahun masih berpotensi naik. Namun, angkanya masih dalam kisaran wajar atau terbatas dan bisa ditolelir pasar, sehingga tidak mengganggu laju sektor properti di bursa saham. Hingga akhir tahun, BI rate, berpeluang naik jadi 7-7,5% dari level 6,5% saat ini, ujarnya.
Karena itu, suku buga acuan tidak akan menurunkan minat atau animo pasar atas saham-saham di sektor properti. Kecuali jika terjadi gejolak inflasi yang tinggi sehingga memaksa otoritas moneter menaikan suku bunga untuk mengejar posisi inflasi tersebut. Tapi, sejauh ini, inflasi masih cukup terkendali sehingga suku bunga bisa dijaga dengan baik, paparnya.
Saham-saham sektor properti yang potensial naik adalah yang likuid dalam transaksinya. Dalam kaitan ini, dia menyarankan investor agar fokus pada saham PT Bumi Serpong Damai (
BSDE), PT Summarecon Agung (
SMRA), PT Ciputra Development (
CTRA) dan PT Ciputra Surya (
CTRS).
Itulah saham-saham yang aktif dan likuid. Saya rekomendasikan
hold bagi yang sudah memilikinya. Bagi yang belum, bisa diakumulasi terbatas sesuai kondisi market, pungkas Alfiansyah. [nat/mdr]