INILAH.COM, Jakarta Bank Sentral AS, The Fed, memangkas suku bunga diskonto hingga tinggal 0-0,25%. Indeks saham di berbagai bursa menyikapinya beragam. Tapi sejumlah ekonom pesimis senjata pamungkas ini dapat mengatasi resesi.
Keputusan itu akhirnya datang juga. Rabu (17/12), Federal Reserve memangkas tingkat suku bunga diskonto dari 1% menjadi 0-0,25%. Ini merupakan langkah pamungkas bank sentral AS itu untuk mengatasi resesi ekonomi.
Ada yang diharapkan institusi pimpinan Ben Bernanke itu dengan menurunkan tingkat suku bunga demikian rendahnya. Mereka berharap tingkat konsumsi masyarakat dan investasi yang hancur lebur diterjang sub-prime mortgage kembali pulih.
Penurunan tingkat suku bunga diyakini dapat mengatasi persoalan di sektor riil, pasar keuangan, dan tingkat lapangan kerja yang menurun drastis setahun. "Laksana mendapatkan hadiah Natal yang tak terduga," komentar seorang penasehat ekonomi, seperti dikutip CNN. "Keputusan itu sungguh tepat untuk meyakinkan investor," lanjutnya.
Bursa-bursa di seluruh dunia pun menyambut keputusan itu dengan gegap gempita. Hari itu, indeks Nikkei Jepang naik 0,5%, sementara Hangseng Hong Kong dan Kospi Korea Selatan masing-masing mencatat kenaikan 2,2% dan 0,7%.
Tapi, tidak demikian dengan bursa di daratan Eropa. Indeks PTE Inggris justru turun 0,4%. Sedangkan indeks DAX Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing mencatat penurunan 0,46% dan 0,78%.
Sungguh pantas jika reaksi pasar sangat beragam. Sebab, pemangkasan suku bunga itu dinilai belum mampu mengatasi kecemasan para eksportir di Eropa terhadap ekonomi AS. Para pakar keuangan pun meragukan langkah The Fed dapat mengakhiri kegentingan di bidang ekonomi.
"Langkah itu tak bisa menghilangkan masalah yang berasal dari kredit," cetus Larry Smith, Chief Investment Officer dari Third Wave Global Investor.
Sejumlah ekonom pun sependapat dengan Smith. Menurut mereka, penurunan suku bunga justru menambah masalah. Mereka menilai suku bunga yang rendah bisa membuat investor asing menjauhi instrumen investasi AS. "Ini masalah besar," ujar seorang ekonom. Bila dana asing berhenti masuk, menurutnya, biaya pinjaman akan meningkat.
Tak bisa dianggap enteng, memang. Penurunan investasi asing bisa kian menggerus nilai mata uang AS. Betul, menurunnya dolar dapat membuat barang-barang ekspor AS lebih kompetitif. Di sisi lain, hal itu membuat harga barang-barang impor naik dan melukai daya beli konsumen yang selama ini menikmati barang-barang impor murah dari manca negara. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !