INILAH.COM, Jakarta Produsen perangkat jaringan China, Huawei Technologies membantah keras memiliki hubungan dengan militer China. Pernyataan Huawei ini menyusul kekhawatiran Australia, digunakannya perangkat Huawei bisa menimbulkan ancaman keamanan dan spionase.
Koran Australia melaporkan, lembaga keamanan akan menyelidiki secara ketat Huawei dalam keikutsertaannya di proyek Optus untuk membangun jaringan broadband nasional di negara itu. Langkah itu dilakukan karena kekhawatira, Huawei memiliki hubungan dengan pemerintah China.
Dalam pernyataaan yang mengatasnamakan wakil direktur public relation untuk wilayah Asia-Pasifik, Thong Poh Wah, Huawei membantah kekhawatiran itu. Huawei yang sudah menjadi pemasok utama alat telekomunikasi Australia serta perusahaan lain, memiliki 230 pegawai di negeri kanguru itu.
"Huawei dibangun dan dimiliki 100% oleh karyawannya, manajemen melalui kepemilikan bersama. Tidak ada organisasi lain, termasuk pemerintah, tentara atau bisnis yang memegang saham di Huawei," katanya.
Menurut laporan Koran The Australian, pendiri Huawei Ren Zhengfei memiliki latar belakang militer. Tapi Huawei menegaskan, masuknya orang militer ke perusahaan di Amerika Utara dan Eropa merupakan hal biasa.
"Huawei satu-satunya pabrikan perangkat telekomunikasi untuk pengguna komersial publik dan konsumen utamanya di 35 negara dari 50 operator telekomunikasi terbesar," kata perusahaan itu.
Huawei mengatakan penjualan yang berhubungan dengan pemerintah China hanya 0,5% dari total income di 2007.
Awal tahun lalu, masalah keamanan juga meningkat yang akhirnya pemerintah AS campur tangan mengenai rencana Huawei membeli saham 3Com. Padalah perusahaan itu adalah pembuat perangkat keamanan jaringan sensistif yang dijual ke departemen pertahanan AS.[ito]