INILAH.COM, Jakarta Bursa saham domestik sepekan ini membukukan kenaikan 0,89%. Meksipun jenuh beli, indeks masih mampu meraih rekor level tertinggi dalam dua sesi perdagangan. Positifnya kinerja emiten menjadi katalisnya.
Berada di atas level 3.000, membuat investor gamang. Mereka pun merealisasikan keuntungan pada saham-saham unggulan, dimana sektor perkebunan CPO mengalami penurunan terbesarnya. IHSG di awal pekan ini pun anjlok 18 poin atau 0,6% pada 3,023, menemukan support pada 3,014 dan resistance pada 3,062, dengan nilai perdangan Rp4,1 triliun .
Koreksi IHSG ini sudah diperkirakan para analis sebelumnya. Tingginya rasio harga saham dibanding pendapatan perusahaan atau price to earning ratio (PER), menunjukkan bahwa IHSG saat ini sudah mahal. Terlihat dari PE ratio sekitar 30 kali, jauh lebih tinggi ketimbang bursa regiobal Asia dengan kisaran rata-rata 15 kali.
Bahkan price earning (PE) saham unggulan di Bursa Efek Indonesia mencapai 18 kali,Investor pun memanfaatkan momentum ini untuk aksi ambil untung, kata Nico Omer Jonckheere, Vice President Asia Valbury Securities.
Kendati demikian, beberapa saham masih mampu mencatatkan kenaikan. Seperti HEXA, yang valuasinya masih terlalu murah dengan PE ratio 4 kali. Kemudian TINS yang merespon kenaikan harga timah.
Namun, koreksi ini tidak berlangsung lama. Indeks mulai berbalik menguat 17 poin atau 0,59% pada 3,041 setelah sempat menyentuh resistance 3,061. Beberapa saham yang menopang kenaikan indeks adalah TLKM, ASII, BBNI, UNTR dan PTBA.
Hal ini merespon sentimen positif dari AS, dimana iIndeks Dow Jones ditutup tiga digit setelah proyeksi membaiknya kinerja FedEx, emiten jasa kurir dan kargo yang identik sebagai parameter aktifitas ekonomi sektor riil di AS.
Selain meningkatnya data penjualan rumah baru di atas ekspektasi Wall Street. Kenaikan data tersebut memicu optimisme baru, bahwa surutnya pemulihan perumahan AS pasca berakhirnya pemberian stimulus pajak akhir April silam, tidak akan terjadi.
Analis dari Anugerah Securindo Indah, Viviet S. Putri mengatakan, indeks berhasil membukukan kenaikan. Sentimen positif berasal dari fundamental ekonomi Indonesia, dimana Bank Indonesia menaikkan estimasi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,9% dari sebelumnya 5,8%. Capital inflow juga masih banyak di pasar, sehingga ada peluang untuk akumulasi,katanya.
Dua hari perdagangan selanjutnya, bursa berhasil mencatatkan level tertinggi barunya, dimana pada Rabu (28/7), IHSG berada di level 3.057,475, atau naik 15 poin (0,5%). Sedangkan pada Kamis (29/7), IHSG kembali menunjukkan performa terbaik di dunia, dengan mencetak rekor di level 3.096,816, atau naik 39 poin (1,3%).
Sentimen individual emiten sangat nyata mempengaruhi pergerakan harga saham, terutama oleh kinerja keuangan semester pertama. Beberapa saham unggulan yang menopang indeks, antara lain JSMR, DILD, AKRA, BBNI, ASII, BBCA, BBRI, GGRM, UNVR dan INDF.
Investor asing terus konsisten membukukan pembelian bersih ke market domestik dengan rata-rata nilai beli sekitar Rp300 miliar per hari. Bahkan pada Kamis, aliran dana asing yang masuk mencapai Rp1 triliun, hingga membawa IHSG mendekati 3.100.
Padahal, laju penguatan Dow Jones dua hari ini mulai tertahan setelah data consumer confidence AS turun ke level terendahnya dalam lima bulan terakhir menjadi 50,4 dari 54,3. Demikian juga data durable goods orders yang turun 1%. Hal ini meyakinkan investor bahwa pemulihan ekonomi AS benar-benar melambat.
Optimisme justru datang dari perekonomian China, yang menyatakan pertumbuhan ekonomi mereka masih lebih dari cukup. Hal ini langsung direspon dengan rally indeks Shanghai sebesar 11% dari level terendahnya tahun ini. Perlahan bursa China mulai pulih dari kondisi bearish-nya, dan hal ini sangat membantu menopang optimisme di bursa komoditas.
Antiklimaks terjadi di penghujung pekan ini, dimana IHSG akhirnya ditutup melemah 27,536 poin (0,89%) ke level 3.069,280. Aksi jual terlihat pada investor asing yang mencatatkan penjualan bersih (net selling) Rp25,48 miliar.
Tim riset BNI Securities mengatakan, koreksi Wall Street yang direspon negatif oleh bursa regional Asia, membawa IHSG melemah. Investor pun memanfaatkan momen ini untuk profit taking, katanya.
Indeks saham di Wall Street kembali terkoreksi dipicu earning emiten yang mengecewakan. Indeks Nasdaq dan S&P 500 tertekan oleh saham teknologi seperti Akamai Technologies, Nvidia Corp dan Symantec Corp. Indikator-indikator ini akhirnya menyeret turun Wall Street secara keseluruhan. [mdr]