INILAH.COM, Jakarta - Ucapan tersangka kasus korupsi Sisminbakum Yusril Ihza Mahendra yang mengatakan tak ingin berdebat dengan Jaksa Agung yang pendidikannya lebih rendah dari dirinya dianggap tak pantas dan melecehkan. Atas sikap arogannya tersebut, Yusril mengidap post-power syndrome.
"Itu tidak pantas dan apa yang dilakukan Yusril itu arogansi intelektual, kesombongan yang menempatkan dirinya seolah-olah lebih tinggi secara akademis dari orang lain," ujar pengamat hukum Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar kepada INILAH.COM di Jakarta, Minggu (1/8).
Menurut Abdul, arogansi yang diumbar mantan Menteri Kehakiman dan HAM tersebut sudah melekat menjadi karakter pribadi. Selama ini, lanjut dia, Yusril merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan, jadi tampak jelas terlihat dia tidak siap dengan penetapannya sebagai tersangka.
"Arogansi itu lebih kepada karakter pribadi, Yusril seperti telah terkena post-power syndrome. Tak siap dengan kondisinya sekarang makanya jadi melecehkan dan menganggap orang lain lebih kecil darinya," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, disela-sela proses persidangannya di Mahkamah Konstitusi terkait Undang-undang Kejaksaan, seputar legalitas Jaksa Agung Hendarman Supandji, Yusril mengungkapkan dirinya enggan menanggapi pertanyaan yang disampaikan penyidik Kejaksaan Agung atas pemeriksaan dirinya sebagai tersangka sisminbakum.
"Saya belum bersedia jawab sebelum ada putusan MK. Lebih baik ditanya oleh hakim, biar saya jelaskan. Daripada berdebat dengan Jaksa Agung. Masa anak S3 debat sama anak S1 kan nggak nyambung lah," ujar Yusril. [tia/jib]