INILAH.COM, Jakarta Peringatan Hari Ibu ternyata tak lepas dari ajang politisasi. Hal ini terlihat saat sekitar 100 massa yang tergabung dalam Relawan SBY menggalar aksi simpatik di Bundaran HI, Senin (22/12) pagi.
Peserta aksi yang umumnya terdiri dari kaum ibu itu mengimbau kaum perempuan untuk tidak golput di Pemilu 2009. Sebab, selama ini, kaum perempuan, terutama ibu-ibu lebih banyak berkonsentrasi di urusan rumah tangga.
"Padahal, nasib bangsa ini ditentukan oleh seorang ibu. Karena ibu kita maju," kata Ketua Gerakan Nasional Peduli Antinarkoba dan Tawuran (Gapenta), Parasian Simanungkalit, yang juga menjadi koordinator aksi.
Menurutnya, kaum perempuan harus memilih pemimpin yang terbaik bagi bangsa ini. "Sampai saat ini masih Pak SBY yang paling bagus. Ya kita lihat di Indonesia ada perubahan, dan dari berbagai survei, suara Pak SBY masih tinggi. Mudah-mudahan Pak SBY masih bisa jadi presiden selanjutnya lagi," tegasnya.
Para peserta aksi merentangkan lima spanduk warna biru yang masing-masing berukuran 1,5 x 5, yang di antaranya bertuliskan 'Karena Ibu Indonesia Maju' dan 'Nasib Bangsa di Tangan Ibu'. Mereka juga membagikan bunga plastik dan bunga mawar, ke pengendara yang melintas.
Mereka juga membagikan brosur biru dengan ucapan Selamat Hari Ibu. Brosur berlatarbelakang gambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tengah sungkem kepada ibunya ini, juga mencantumkan sejumlah anjuran kepada kaum perempuan pada saat pelaksanaan pemilu.
Di antaranya bertuliskan, "Kenali calon legislatif Anda. Bila tidak ada yang Anda kenal, kenali partai peserta pemilu. Bila tidak ada yang caleg yang tidak Anda kenal dan partai yang Anda, pilih partai yang mengusung calon presiden yang baik." [nuz]