HYUNDAI Avega facelift pertama kali diperkenalkan kepada publik di Indonesia International Motor Show, Juli 2008 lalu. Bahkan di ajang bergengsi itu Hyundai Avega sukses meraih penghargaan Best Sedan Small Class. Sejak itu, jualan Avega terdongkrak, apalagi sebelumnya memang sudah laris manis.
Tidak sedikit para pembaca INILAH.COM yang penasaran dan menanyakan bagaimana performa dan konsumsi bahan bakarnya? Karena itu, pekan lalu, PT Hyundai Mobil Indonesia meminjamkan sebuah unit Avega facelift untuk diujicoba kembali.
Memandang sosok Avega (M/T), terlebih lagi setelah masuk ke dalam kabin dan mulai menginjak pedal gas, saya jadi teringat saat pertamakali menjajal liftback multiguna ini dari Semarang ke Yogyakarta 2007 lalu.
Hyundai Avega dengan panjang 4,215 meter, lebar 1,630 meter, dan tinggi 1,395 meter tak berbeda dengan versi faceliftnya. Begitu juga kapasitas mesin yang disandang juga sama, 1.5 Liter (1.495 cc), 4 silinder segaris, 12 katup (4 katup per silinder), tenaga dan torsi maksimum, masing-masing 89 PK pada 5.500 rpm dan 129 Nm pada 3.000 rpm.
Harus diakui, versi facelift ini memang tampil lebih sporty dan gaya daripada versi sebelumnya. Dengan permainan warna chrome pada grille, headlamp beraksen gelap serta bagian belakang terpasang ducktail dihiasi stop lamp sekali lagi mampu mengubah wajah Avega yang sebelumnya agak culun. Apalagi, interior ikut disentuh dengan lapisan kulit pada beberapa bagian membuat Avega facelift semakin keren.
Duduk di dalam kabin dengan interior New Avega kini lebih terasa nyaman ditambah lagi dengan tersedianya fitur electric power window, New Center facia serta CD & iPod-ready audio system sebagai fitur standarnya.
Lepas dari kemacetan di Arteri Pondok Indah, Avega mulai dijak bercengkrama dengan kondisi lalu lintas yang agak lengang di jalan tol TB Simatupang. Menyalip terkadang meliuk-liuk di antara mobil-mobil lain yang menuju ke arah Cawang tak membuat saya ragu untuk terus menginjak lebih dalam pedal gasnya. Mau tahu rasianya? Inilah kelebihan Hyundai, rata-rata mobil buatan negeri Ginseng ini seperti lengket dengan aspal, tak ada gejala limbung meski kecepatan sudah lebih dari 100 km per jam.
Dibandingkan dengan kondisi jalan yang menanjak dan berkelok-kelok di wilayah Gombel yang berlanjut sampai ke Ungaran dan Salatiga saat mencoba Avega pertama kali, tentu saja kondisi lalu lintas dalam kota nggak ada apa-apanya buat Avega. Bahkan, kalau Anda pernah tahu bagaimana tanjakan ke arah New Selo, mungkin Anda nggak yakin Avega bisa sampai hingga pada ketinggian 1.805 meter di atas permukaan laut.
Puluhan wartawan dari berbagai media di Jakarta yang ikut dalam rombongan besar Hyundai pada saat itu terkagum-kagum dengan kemampuan Avega menanjak. Tak perlu trik khusus buat Hyundai Avega yang menggunakan persneling manual dengan 5 tingkat kecepatan, untuk sampai di puncak New Selo. Tapi untuk persneling otomatik dengan 4 tingkat kecepatan memang diperlukan kiat tersendiri. Putaran mesin harus dipertahankan pada 3.000 rpm. Namun, setelah dijajal 5 di antara 19 Hyundai Avega yang menggunakan persneling otomatik nggak ada kesulitan sampai di New Selo.
Konsumsi bahan bakar Avega yang mengandalkan mesin SOHC berkapasitas 1.5 liter saat ujicoba di jalur Semarang Yogyakarta terbilang irit. Dalam hitungan konvensional para wartawan 1 liter bisa menempuh perjalanan 10 hingga 11 km. Tergantung bagaimana cara mengemudinya. Berbeda dengan Avega facelift yang saya coba kali ini, konsumsi bbm-nya terasa lebih boros, perbandingan bisa sekitar 1:8,5km per jam. Mungkin karena mobil yang dipinjam INILAH.COM sering gonta-ganti tangan customer yang ingin mencoba Avega. Tapi, dengan single cam, mesin ini memberi keuntungan pada putaran rendah sehingga akan lincah dan efisien untuk penggunaan di kondisi lalu lintas stop and go.
Selama ujicoba untuk keperluan sehari-hari dari rumah ke kantor atau sebaliknya, Avega cukup nyaman menembus kemacetan lalu lintas. Sedan ini cukup mudah untuk menyalip di antara mobil-mobil yang sama-sama berpacu untuk segera sampai di tempat tujuan.
Sebagai kendaraan keluarga, Avega nyaman untuk membawa tiga penumpang di belakang dan satu di depan.
Dari segi harga, Avega yang ditawarkan dari rentang Rp 100 jutaan lebih (tipe G M/T) hingga Rp 130 jutaan lebih (tipe SG A/T) , cukup menggiurkan untuk sebuah mobil berlabel sedan. Dan bila bicara ketersediaan dana maksimum Rp 130 juta, maka alternative pilihan bagi konsumen tentu tak banyak. Pilihan terdekat adalah Daihatsu Sirion yang dibanderol Rp 129,9 juta untuk tipe D dengan transmisi otomatis. Sirion hanya dibekali mesin 1.300 cc, tapi produksi tenaganya mencapai 92 hp. Dengan performa mesin seperti itu, rasio bobot-tenaga akan seimbang dengan Avega yang tenaga mesinnya hanya 89 hp.
Type G M/T, OTR Rp.108.000.000
Type GL M/T, OTR Rp.118.750.000
Type GL A/T, OTR Rp.130.850.000
Type SG M/T, OTR Rp.125.750.000
Type SG A/T, OTR Rp.137.850.000