DARI kalimat 'perwakilan' menunjukkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah representasi dari wakil rakyatnya di parlemen. Apakah selama ini sudah demikian adanya?
Tentu jawabannya sangat beragam. Bahkan mungkin sebagian besar masyarakat akan menjawab DPR hanya mewakili diri sendiri dan partainya, bukan rakyat.
Setelah heboh dana aspirasi Rp15 miliar, kini DPR minta duit lagi ke rakyat. Duit dinamakan dana rumah aspirasi Rp200 juta/anggota.
Atas ulah tersebut rakyat kini dibikin bingung, bahkan tak mengerti langkah-langkah apa sebenar yang akan dilakukan DPR sehingga tega menggeruk dana rakyat untuk aspirasi kepentingannya sendiri. Adakah korelasinya dengan kepentingan rakyat jika rumah aspirasi rakyat terbentuk? Bisakah semua anggota DPR mempertanggungjawabkannya?
Harusnya DPR sadar dan introspeksi diri, masih pantaskah terus menjadi wakil rakyat jika hadir dalam sidang saja malas dan masa bodoh. Bagaimana bisa memikirkan rakyat yang sudah begitu hidup susah kalau mereka sibuk memikirkan diri sendiri?
Rakyat sudah sangat menderita. Penggelontoran dana kepada tiap-tiap anggota DPR sebesar Rp200 juta untuk rumah aspirasi adalah bentuk penindasan yang nyata. Kenapa mereka tidak mencoba mandiri? Keluarkan dari kantong pribadi, jangan sebentar-sebentar minta duit ke rakyat.
Rakyat yang sudah miskin jangan terus dibodohi. Tanyakan dulu ke rakyat apakah setuju atau tidak? Dan apakah rakyat sudah mengerti apa itu rumah aspirasi?
Dody Candra
Griya Asri, Depok, Jawa Barat