INILAH.COM, Jakarta - Dengan tren penurunan harga minyak mentah dunia, menjadi kesempatan pemerintah menurunkan lagi harga BBM. Kebijakan itu seharusnya tak perlu lagi ditunda-tunda. Apalagi di-setting menjelang Pemilu 2009.
Pendapat itu diungkapkan pengamat perminyakan Kurtubi, yang mengharapkan harga BBM kembali turun seiring melemahnya harga minyak mentah dunia yang kini di kisaran US$ 35 per barel.
Kebijakan harga BBM, katanya, seharusnya tidak dibawa ke ranah politik, tetapi harus murni karena pertimbangan ekonomi yang mendukung penurunan harga BBM.
"Memang daya ingat masyarakat kita pendek, tetapi jangan sampai penurunan dekat-dekat dengan coblosan pemilu. Sekarang saja, pemerintah tetap mendapat keuntungan secara politik," katanya kepada INILAH.COM yang dihubungi via telepon.
Dengan harga minyak dunia di bawah US$ 40 per barel, maka harga BBM subsidi jenis premium bisa turun menjadi Rp 4.000 per liter. Demikian juga dengan harga BBM jenis solar tidak masalah diturunkan menjadi Rp 4.000 per liter. Dengan rumus perhitungan apapun harga BBM dapat diturunkan lagi.
Dampak dari penurunan harga BBM sangat menolong perekonomian dalam negeri. Sebab korban PHK dari industri manufaktur dapat bekerja di sektor informal, seperti menjadi pedagang dan usaha lainnya.
Apalagi masyarakat yang saat ini berpenghasilan tetap maka akan berkurang bebannya.
Kurtubi mengaku tidak mengerti mengapa pemerintah terlalu lama menunda kebijakan soal harga BBM bersubsidi. Satu-satunya hambatan diperkirakan dari pertimbangan politik. Momentum ini dapat dipergunakan untuk kepentingan Pemilu 2009 untuk mendongkrak citra pemerintah. [tra]