INILAH.COM, Jombang - Rangga Tirta Asmara, korban kekerasan guru kesenian SMP Negeri I Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, mengaku sempat dirawat dokter seusai mendapat tamparan sebanyak empat kali. Namun, saat ini memar yang dideritanya tak terlihat lagi.
Rangga yang ditemui di sekolahnya, Jumat (26/12), lebih banyak menunduk. Dengan didampingi guru Bimbingan Penyuluhan Widayati, warga Desa Palreja Kecamatan Sumobito ini tidak banyak berkomentar. Namun, ia mengakui telah dijadikan sansak hidup oleh gurunya yang bernama Muhammad Arif Purwo Prastyo alias Yoyok.
Anak pertama pasangan Mashuri-Sholikatin ini menceritakan, awal mula kekerasan yang diterimanya bermula dari tugas membuat patung yang diberikan gurunya. Saat tugas itu waktunya dikumpulkan hari Sabtu (20/12), namun ternyata Rangga belum menyelesaikanya.
Mengetahui Rangga belum menyelesaikan tugas, sang guru langsung marah. "Kemudian saya disuruh maju ke depan kelas. Dalam hitungan menit, tangan Pak Yoyok sudah mendarat di muka saya sebelah kiri. Saya ditampar sebanyak empat kali," kata Rangga dengan wajah menunduk.
Apakah Rangga dendam dengan Pak Yoyok? Bocah yang masih lugu ini hanya menggelengkan kepala. Meski demikian, sejak kejadian itu Rangga takut masuk sekolah, apalagi saat mata pelajaran kesenian.
"Sempat takut dan tidak mau sekolah, terutama pada hari Sabtu. Tapi sekarang sudah tidak lagi," kata ibunya Rangga, Sholikatin ketika dihubungi secara terpisah. [beritajatim/nuz]