Minggu, 27 Mei 2012 | 02:29 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Seorang Presiden Baru
Headline
Oleh: Karim Raslan
web - Sabtu, 7 Agustus 2010 | 12:54 WIB
INDONESIA adalah salah satu contoh negara investasi yang sangat diminati oleh global. Namun, kini belum waktunya Indonesia berpuas diri.

Di saat sama, tren ekonomi sangat rentan terhadap perubahan mendadak. Pemain besar seperti Indonesia dapat dengan mudah tergulingkan oleh kemunculan negara-negara yang tadinya tidak diperhitungkan.

Filipina merupakan contoh. Di akhir dekade 60-an dan awal 70-an, Filipina merupakan kisah sukses negara yang mengalami pertumbuhan dan stabilitas ekonomi dengan baik. Namun tidak lama, pertumbuhan merosot akibat keserakahan keluarga Marcos.

Setelah hampir 30 tahun menjadi Negara ASEAN terbelakang, kini Filipina mengalami periode kemakmuran tidak terduga. Kebangkitan ini sedikit banyak berkat presiden barunya, Benigno (atau biasa dipanggil 'Noynoy') Aquino III.

Setelah memenangkan pemilu dengan jumlah suara terbanyak yang pernah tercatat dalam sejarah, ia baru saja disumpah bulan lalu dan menyampaikan pidato State of the Nation Address (SONA)-nya pekan lalu.

Namun sikap ragu dari rakyat masih membayangi Noynoy: para pemimpin Filipina kebanyakan telah mengecewakan rakyatnya dan yang paling terasa adalah ibunda Noynoy sendiri, Corazon. Meskipun demikian, sebagian besar dari 95 juta rakyat Filipina menggantungkan hidup pada Noynoy untuk membawa perubahan bagi negerinya.

Mampukah dia memperbaiki kegagalan pemerintah sebelumnya, dan membangkitkan kembali perekonomian Filipina yang terpuruk?
Pidato SONA Noynoy memancarkan tekad kuat memberantas korupsi. Dalam pidatonya ia mengecam keras pendahulunya, Gloria Arroyo.

Tanpa bermaksud menjatuhkan Noynoy, ia memang cukup jeli melihat betapa pentingnya kondisi atau gestur politik, sesuatu yang tidak bisa dilakukan kebanyakan pemimpin Asia Tenggara.
Pernyataan Noynoy yang disambut gembira rakyatnya adalah melarang penggunaan kawalan polisi dan sirene mengganggu, termasuk untuk dirinya sendiri suatu hal yang mungkin juga akan disambut gembira oleh warga Cikeas di Indonesia.
Selain itu, tak disangka-sangka, kabinet Noynoy sangatlah pro-bisnis. Cesar Purisima, menteri keuangan yang baru saja ditunjuknya, mewakili etos pemerintahan yang baru ini. Alumni Ernst+Young berusia 49 ini adalah profesional berpengalaman sekaligus politisi handal, cerdik, dan lugas. Ia sempat menjabat pada tahun-tahun pertama pemerintahan Arroyo, sebelum mengundurkan diri saat Pemilu 2004 yang kontroversial.
Saya berkesempatan bertemu Cesar hanya beberapa hari setelah pidato SONA, di Departemen Keuangan, di Roxas Boulevard. Jalanan tepi pantai yang dulu terkesan mewah itu kini dipenuhi bar-bar kumuh: sebuah gambaran kemerosotan Filipina saat ini.
Kantor Cesar dengan atap bocor yang semakin memperburuk arsitektur beton yang terasa kasar jelas butuh renovasi besar-besaran. Walau begitu, ia bersikap profesional dan bersemangat saat mengemukakan kekuatan pemerintahan barunya.
"Tidak seperti Ibu Arroyo, Presiden Noynoy tidak punya masalah dengan kredibilitasnya. Mandat yang datang dari beliau sangat solid. Posisi Arroyo yang tidak stabil dengan tidak adanya legitimasi sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusannya, kata Caesar.
Lebih jauh lagi, Presiden melihat adanya korelasi antara korupsi dan kemiskinan. Kami akan memfokuskan diri pada kekuatan Filipina yang berada di depan mata terutama untuk bidang pariwisata.
Presiden bertekad menjalankan kebijakan Open Sky. Kedekatan Filipina secara geografis dengan Asia Utara memberi peluang membidik pasar ini.
"Tidak lama lagi, China akan menjadi pengimpor makanan besar. Kami ingin menjadi pemasok utama bagi mereka.
Cesar lalu bertutur tentang keberhasilan luar biasa dalam sektor Business Process Outsourcing (BPO), Kami punya lebih dari satu juta karyawan dan kelebihan pendapatan US$10 miliar.
Sangat disayangkan, kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia tidak sebaik Filipina, dan hal ini menyebabkan sektor BPO di Filipina menjadi sukses.
Walaupun kepercayaan diri sang menteri keuangan ini cukup mengagumkan, ada sejumlah faktor dasar tertentu yang menyulut kebangkitan Filipina. Banyak di antara faktor itu sama dengan yang mendukung kebangkitan ekonomi Indonesia.
Pertama, dana yang sangat besar dari komunitas Filipina di luar negeri jika dibandingkan dengan Indonesia. Warga Filipina di luar negeri menghasilkan lebih dari US$1,5 miliar bagi negara mereka tiap bulan, dan lebih banyak lagi di saat-saat krisis seperti Typhoon Ondoy.
Lebih jauh lagi, target keberhasilan dalam kancah global telah berubah. Sebuah negara kini dilihat dari sumber daya alam dan pasarnya.
Ini menguntungkan bagi sejumlah negara berpopulasi besar seperti Filipina, Bangladesh, Vietnam, bahkan Thailand yang sedang dilanda kemelut politik.
Kedua negara kepulauan ini sudah siap bangkit dari keterpurukan. Tentu akan sangat menarik untuk melihat persaingan dan/atau kerjasama seperti apa yang akan ditimbulkan dari tren ekonomi ini.
Satu hal yang pasti, Indonesia tidak boleh membuat kesalahan lagi. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.