INILAH.COM, Jakarta - Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Abu Bakar Baasyir kembali ditangkap aparat kepolisian Senin (9/8) dini hari dalam perjalanan pulang dari Tasikmalaya ke Solo, Jawa Tengah. Penangkapan ini kali ketiga sepanjang hidupnya mulai 1982, 2002, dan 2010 saat ini. Apakah Baasyir kembali lolos?
Pengamat intelejen Dynno Chressbon menilai, sulit mengkaitkan secara fakta yuridis secara langsung keterlibatan Abu Bakar Baasyir (ABB) dengan sejumlah aksi terorisme di Indonesia yang juga melibatkan anggota JAT.
Menurut saya, polisi mengalami kesulitan keterlibatan ABB secara langsung antara ABB, JAT dan keanggotaan oknum JAT, ujarnya kepada R Ferdian Andi R dari INILAH.COM melalui saluran telepon di Jakarta, Senin (9/8). Berikut wawancara lengkapnya:
Bagaimana komentar Anda atas penangkapan Abu Bakar Baasyir yang bisa saja dikaitkan dengan aksi terorisme di Indonesia?
Pertama tidak ada keterangan langsung yang diberikan sejumlah orang yang diidetifikasi sebagai anggota JAT yang ditangkap di Jati Asih, Medan, Jakarta, Klaten, Boyolali, Wonosobo, sampai terakhir di Sumedang, Bandung dan Subang, dengan peranan dari pemimpin mereka yaitu Abu Bakar Baasyir (ABB).
Polisi menemukan fakta yuridis kehadiran ABB di sejumlah tempat yang diduga sebagai sarang atau tempat dimana kelompok yang tertangkap itu sering melakukan kontak dalam bentuk pengajian. Ini membuat ABB harus dimintai keterangan sebagai saksi untuk dikonfrontir keterangan pihak yang ditangkap.
Artinya, status ABB sampai saat ini sebatas saksi?
ABB sebagai saksi untuk dikonfrontir langsung kepada tersangka. Sejumlah tempat di Jakarta, dan lokasi lainnya, menunjukkan ada keterkaitan secara langsung antara ABB sebagai pemimpin JAT dengan tempat kegiatan oleh sejumlah orang yang terkait dengan tindak pidana terorisme.
Dengan demikian, bagaimana peluang menjerat ABB dalam kasus terorisme di Indonesia?
Saya pikir sulit untuk membuktikan secara langsung, ini penangkapan 3 kali terhadap ABB mulai 1982, 2002, 2010 saat ini. Menurut saya, polisi mengalami kesulitan keterlibatan ABB secara langsung antara ABB, JAT dan keanggotaan oknum JAT.
Apakah memungkinkan ABB lolos dari sangkaan terorisme?
Polisi akan sulit untuk membuktikan peranan langsung di pengadilan.
Apakah ini memang skenario di internal JAT dengan tidak menyebut dan mengkaitkan ABB dengan gerakan terorisme di Indonesia?
Tidak ada bagian dari skenario apapun. Tapi sebagi organisasi bawah tanah, sudah menjadi sumpah setia untuk menyembunyikan garis komando tertinggi sampai kader.
Saya pikir sistem orgasniasi sel yang dianut bukan oleh kelolmpok terorisme saja tapi oleh pejuang kemerdekaan. Pada posisi ini, menurut saya pengakuan tersangka trerorisme tidak cukup membuktikan secara langsung. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !