Kalau Indonesia mau membantu memerdekakan Palestina, maka bantulah demokratisasi negara-negara Arab.
Jalan keras sebenarnya adalah revolusi. Sebagian besar rezim berkuasa di negara-negara Arab saat ini, bukanlah wujud dari kehendak rakyat. Pepatah arab mengatakan: rakyat di satu lembah, dan rezim di lembah yang lain. Aspirasi mereka tidak satu, bahkan lebih sering bertubrukan.
Tapi jalan revolusi terlalu berbahaya. Akan banyak darah tumpah. Rezim-rezim ini tidak akan segan-segan menembak rakyat sendiri jika revolusi pecah.
Maka jalan satu-satunya adalah revolusi damai di kotak-kota suara. Demokrasi. Pemilihan umum langsung, jujur, adil dan tanpa intimidasi. Namun jarak demokrasi dari negara-negara arab, barangkali, masih sejauh perjalanan tiga tahun kecepatan cahaya.
Tapi hanya inilah jalan yang paling masuk akal, beradab, tapi tentu perlu kerja keras berkesinambungan. Dan manakala, rezim Arab betul-betul perwujudan dari kehendak rakyat, Israel akan habis dengan sendirinya. Israel tidak akan mundur oleh kata-kata, kecaman atau gertakan dari siapapun.
Ia akan mundur oleh fakta kekuatan politik militer di lapangan. Indonesia bisa berperan di dua sisi. Meyakinkan Amerika dan sekutunya untuk menerima apapun hasil demokrasi di kawasan ini, dan membantu kekuatan pro demokrasi di negara-negara arab untuk punya nyali dan kapasitas yang lebih besar.
Meyakinkan Amerika sangat perlu karena mereka selama ini menggunakan standar ganda. Mereka harus dipaksa untuk konsisten terhadap nilai-nilai dasar mereka sendiri. Hamas menang dalam pemilu yang paling demokratis dalam sejarah Palestina, tapi karena mereka melawan Israel dan Amerika, Hamas harus dihabisi. Israel didukung Amerika melakukannya, kemarin, hari ini, besok dan seterusnya.
Sementara menyakinkan Arab perlu kengototan yang lebih besar lagi. Para penguasa di negeri-negeri ini sudah kadung nyaman puluhan tahun menikmati kekuasaan. Mereka bahkan lebih setia terhadap Amerika ketimbang kepada kepentingan rakyat dan saudara-saudara sebangsa mereka sendiri di Palestina. Dan ini dipahami dan dimainkan betul oleh Amerika dan sekutunya.
Maka kalau mau ada perubahan yang sangat fundamental bagi penyelesaian konflik Arab-Israel, demokrasi adalah jawabannya. Jika tidak, jika tidak ada perubahan mendasar apapun di konstelasi politik timur tengah dan sementara tata dunia masih dikuasai Amerika dan sekutunya, sampai kapanpun, Palestina terus akan jadi korban keganasan Israel.
Dedy W Sanusi, dewasa2008@gmail.com