INILAH.COM, Jakarta - Konflik Israel dan Palestina telah membaluri awal baru 2009 dengan tinta hitam. Masyarakat berharap cemas, bahwa perkembangan politik AS akan menyiratkan perubahan fundamental dalam kebijakan luar negeri negara itu di Timur Tengah. .
Penyerangan Israel atas rakyat Palestina akan memunculkan tekanan bagi presiden terpilih Amerika Serikat Barack Hussein Obama. Apalagi masyarakat internasional berharap Obama menempatkan konflik Israel-Palestina sebagai salah satu agendanya sebagaimana janjinya selama kampanye beberapa waktu lalu.
Sebelumnya Obama berjanji membereskan masalah Irak, Afganistan, dan krisis ekonomi saat berkampanye dalam perebutan kursi kepresidenan Amerika. Rencana kebijakan luar negeri Obama sangat menekankan pada digelarnya kembali proses perdamaian di kawasan Timur Tengah. Orang menunggu kinerjanya agar dunia berubah.
Sebagaimana dicatat Ahmad Syafii Maarif, tak ada Pilpres mana pun yang begitu kuat menyedot perhatian publik dunia, kecuali yang baru saja terjadi di negara Paman Sam itu.
Meminjam pendapat Richard Falk, Amerika adalah satu-satunya negara global pertama sepanjang sejarah. Kekuatan militernya hadir di berbagai pojok bumi yang strategis. Dengan kemenangan Obama, dimensi global itu semakin dikukuhkan.
Namun, apakah Obama akan berhasil memenuhi janjinya untuk sebuah perubahan fundamental, sikap yang terbaik adalah tunggu dan saksikan. Saat ini mulai beredar suara-suara miring keberhasilannya, terutama dalam kaitannya dengan penyelesaian masalah Palestina, Afghanistan, dan Irak yang telah cukup menderita akibat ketidakadilan global.
Sejauh ini, Israel terus melakukan gempuran terhadap Palestina. Dalam serangan yang berlangsung tidak seimbang itu, korban tewas lebih dari 363 orang dan yang mengalami luka-luka lebih dari 1.720 orang. Pernyataan PBB menyebutkan sekitar 62 warga sipil tewas.
Tak hanya penduduk Palestina yang banyak mati syahid, serangan militer Israel yang membabi buta itu juga menghancurkan fasilitas-fasilitas publik seperti universitas, masjid, rumah sakit, dan lain-lain. Dunia internasional mengecam dan mengutuk tindakan brutal militer Israel itu.
Tapi hingga kini Obama masih menyikapi dingin aksi Israel itu. Ketika berbicara dengan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice tentang situasi terkini Timur Tengah, Obama masih belum punya rencana untuk terlibat lebih aktif.
Pada Tahun Baru 2009 ini, masyarakat dunia masih menanti apa yang akan terjadi, serta menunggu apa yang yang akan dilakukan Obama atas tragedi berdarah di Palestina ini.
Jika Obama terbukti tak melakukan perubahan kebijakan luar negeri AS, maka orang akan melihat Obama seperti pendahulunya, Presiden George W Bush: pro-status quo dan cuma ngomong 'nggedebus'. [E1]