INILAH.COM, Nashiville Resesi global melumpuhkan hampir semua sektor, bahkan hingga menular ke bisnis hiburan. Meski dunia hiburan masih digandrungi banyak orang, tapi bukan berarti industri musik memetik keuntungan. Kenapa?
Sebenarnya penjualan musik sudah cukup terbantu dengan aktivitas unduh digital. Tapi, nyatanya senandung musik kini tak lagi semerdu dulu. Pemicunya, tentu daya beli yang jauh menurun dibandingkan sebelum krisis melanda dunia.
Lembaga pemeringkat Nielsen Co. memberikan gambaran mengenai penjualan album sepanjang 2008. Hasilnya, penjualan album, termasuk trek atau single yang dijual secara digital, berada pada angka 428,4 juta unit. Angka itu turun 8,5% dibandingkan tahun sebelumnya 500,5 juta unit. Data ini tak membedakan jumlah penjualan trek dan album.
Penjualan album musik itu terbagi atas dua jenis, album fisik dan digital yang biasanya diunduh secara online. Penjualan album fisik, turun menjadi 362,6 juta unit atau 20% dari tahun sebelumnya yang 450,5 juta unit. Sebaliknya, penjualan album digital malah meningkat menjadi 65,8 juta unit atau naik 32% dari 2007.
Penjualan trek digital, seperti yang dijual iTunes Music Store juga bernasib sama. Vendor milik Apple Inc. itu penjualannya naik 27% dari periode yang sama 2007. Mereka sekaligus menembus penjualan 1 miliar untuk pertama kalinya, yaitu 1,07 miliar unit trek.
Laporan itu mengindikasikan tren baru dalam industri musik mulai tercipta. Sulit mempertahankan keuntungan pada media lama jika konsumen lebih memilih model baru. Membeli lagu satu per satu ketimbang seluruh albumnya. Jumlah transaksi digital pun naik 10,5% ke 1,5 miliar dibandingkan periode 2007.
"Secara keseluruhan tren penjualan unit album/trek ini sebenarnya positif. Tapi penjualan album musik terus turun dari tahun ke tahun," kata redaktur chart musik di majalah Billboard, Silvio Pietroluongo.
"Konsumsi musik memang tak pernah mencapai setinggi ini, masalahnya hanya pada usaha membuatnya jadi menguntungkan," sambungnya. Beberapa label musik pun mencoba untuk berimprovisasi mengikuti perkembangan zaman.
Craig Kallman, CEO Atlantic Record milik Warner Music Group Corp., mengatakan label miliknya telah melampaui tonggak sejarah pada 2008. Penjualan label tempat bernaung musisi tenar seperti Kid Rock dan T.I. itu melampaui penjualan album fisik yang berupa CD.
Atlantic tecatat sebagai label dengan penjualan tertinggi di AS sepanjang 2008. Label ini berhati-hati memilih dan memilah artis yang akan dipromosikan. Kemudian bersabar menanti hasil penjualan album yang telah dilepas di pasaran.
"Anda harus yakin dengan apa yang akan menjadi hit. Jika ingin berinvestasi di bidang ini dan tak banyak yang bisa Anda tangani, maka harus lebih banyak membuat keputusan benar," ujarnya.
Data Nielsen SoundScan juga menunjukkan penjualan turun pada semua genre musik. Penurunan terbesar pada musik klasik dengan 26%, kemudian musik country 24%, dan musik latin 21,1%.
Penjualan album terbesar sepanjang tahun adalah penyanyi pop country Taylor Swift dengan lebih dari 4 juta unit. Gadis berusia 21 tahun ini memiliki dua album yang berada di daftar 10 besar album terlaris versi Nielsen. Album self-titled-nya berada di posisi ke-6 dan album sebelumnya, Fearless di urutan ke-3.
"Semua jenis promosi telah kami lakukan, online, radio, hingga penampilan di TV. Semua itu ditutup dengan tur keliling negeri non-stop. Terpenting, Taylor memiliki hubungan dengan semua penggemarnya dan tak ada musisi yang melakukan hal itu pada 2008," ujar Scott Borchetta, presiden dan CEO label Swift, Big Machine Records.
Di urutan pertama, rapper Lil Wayne dengan album bertajuk Tha Carter III yang terjual sebanyak 2,87 juta unit. Berikutnya album Viva La Vida milik Coldplay dengan penjualan sebanyak 2,14 juta unit. Sementara Fearless milik Swift terjual 2,11 juta unit.
Di industri musik digital, yang paling laris penyanyi R&B Rihanna dengan 9,94 juta unit terjual. Swift pun tetap masuk dalam daftar ini dengan menempati posisi ke-2. Selanjutnya ada rapper kulit hitam yang banyak menuai pujian, Kanye West.
Ironisnya, seiring dengan pertumbuhan musik digital, penjualan album vinil atau yang lebih dikenal dengan sebutan piringan hitam (PH) malah ikut meningkat. Sepanjang 2008 saja, penjualan media klasik ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya sejak Nielsen SoundScan pertama kali mendata pada 1991, yakni 1,88 juta unit.
Dua dari tiga PH dalam data itu terjual di toko musik independen. Album paling laris adalah In Rainbows milik Radiohead (26 ribu unit), Abbey Road dari The Beatles (16.500 unit), dan Chinese Democracy milik Guns N'Roses (13.600 unit).
Pekan terakhir 2008, Nielsen melaporkan penjualan album/trek musik yang mencapai 65 juta. Dalam sejarah pendataan mereka, jumlah itu adalah pekan penjualan terbesar. Rekor sebelumnya adalah pekan Natal 2007 dengan 58,4 juta penjualan. [tra]